(Vibiznews
- Business) - Bank Dunia tampaknya kembali mengeluarkan 'kode merah'
untuk bahaya perlambatan ekonomi global (15/10). Setelah minggu lalu
memotong outlook pertumbuhan ekonomi secara global dan di Asia Timur
serta Pasifik, hari ini lembaga keuangan dunia tersebut mulai memotong
outlook untuk ekonomi-ekonomi per negara.Indonesia sendiri tidak luput dari outlook buruk Bank Dunia. Bank Dunia memproyeksikan PDB Indonesia tumbuh sebesar 6,1 persen untuk 2012, dan sedikit meningkat menjadi 6.3 persen untuk 2013. Angka ini lebih rendah dari perkiraan pemerintah sebesar 6.5 persen di 2012 dan 2013.
Risiko-risiko terhadap proyeksi dasar ini sedang meningkat, terutama karena berlanjutnya ketidakpastian di zona Euro, kemungkinan terjadinya kontraksi fiskal di AS, dan risiko perlambatan lebih lanjut di sejumlah mitra perdagangan utama Indonesia, terutama China.
Risiko Ekonomi Indonesia Masih Tinggi
Kinerja pertumbuhan Indonesia saat ini tetap kuat tetapi masih terdapat risiko penurunan yang cukup besar terhadap perkiraan ekonomi dunia, demikian menurut Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Stefan Koeberle.
Menurut Koeberle, penurunan ekspor netto menjadi beban besar terhadap pertumbuhan PDB pada kuartal kedua 2012. Nilai ekspor bulanan juga semakin menurun, dengan ekspor yang berkaitan dengan sumber daya alam mencatat penurunan terbesar. Penurunan dalam surplus perdagangan barang turut melebarkan defisit neraca berjalan pada kuartal kedua 2012.
Namun, sebagian tekanan terhadap neraca perdagangan akan terkoreksi sendiri dengan turunnya permintaan atas impor barang modal dan setengah-jadi yang digunakan sebagai input untuk produksi ekspor.
Salah satu hal yang dicermati oleh Bank Dunia yang berpotensi menimbulkan risiko pada ekonomi Indonesia adalah belanja subsidi energi yang terlalu tinggi pada RAPBN 2013. Belanja ini akan menghambat fleksibilitas anggaran yang seharusnya dapat digunakan untuk mengantisipasi penurunan pertumbuhan ekonomi dunia.
Bank Dunia juga menilai bahwa subsidi ini tidak tepat sasaran karena lebih menguntungkan rumah tangga kaya. Risiko dari tingginya subsidi ini adalah berkurangnya investasi di sektor publik, utamanya pembangunan di sektor inrastruktur yang justru saat ini sangat dibutuhkan oleh Indonesia.
Masih Menyimpan Banyak Potensi
Meskipun demikian patut diakui bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih sangat menarik bagi para investor global. Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi yang pesat dengan tingkat pemasukan yang terus naik. Jumlah angkatan kerja yang besar dan berusia usia muda. Warga kelas menengah terus bertambah. Pemerintahan cukup stabil dengan kebijakannya pro investor. Situasi perbankan yang kokoh dengan cadangan devisa cukup banyak untuk bisa menyokong rupiah.
Bersama Filipina, Indonesia adalah “Macan Baru†Asia Tenggara. Kedua negara ini berpotensi membawa dampak besar dalam pertumbuhan ekonomi dunia beberapa tahun ke depan. Pada saat yang sama, negara-negara maju kesulitan menghadapi utang negara. Sementara itu, pasar kelas berat di Asia, seperti Cina dan India, kehilangan momentum.
Dengan produk domestik bruto nyaris mencapai $850 miliar atau Rp 8170 triliun, Indonesia adalah negara dengan ekonomi terkuat di ASEAN. Tapi menurut data Bank Pembangunan Asia atau ADB, separuh dari 241 juta penduduk Indonesia masih berpenghasilan di bawah Rp 20000 sehari. Pembangunan di ibu kota Jakarta cukup pesat, tapi masalah infrastruktur masih menghantui Indonesia.
(Ika Akbarwati/IA/vbn)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar