Pages

Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 September 2015

Market Outlook 7-11 September 2015


Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia terpantau balik berakhir melemah terpengaruh dengan sentimen negatif bursa kawasan atas pelemahan ekonomi China sementara rilis tingkat inflasi dalam negeri yang rendah masih kurang kuat untuk mengangkat indeks, sehingga secara mingguan bursa ditutup melemah ke level 4,415.34. Untuk minggu berikutnya ini (7-11 September) bursa tampaknya masih tetap akan bergerak hati-hati karena masih dalam tekanan bearish. Secara mingguan, IHSG berada antara support di level 4111 dan kemudian 4012, sedangkanresistance level di posisi 4600 dan 4775.
Mata uang rupiah seminggu lalu terpantau masih terus melemah terhadap dollar dengan mata uang dollar yang sedang bangkit perkasa kembali di pasar global, di mana secara mingguan rupiah melemah ke level 14,178. Kurs USDIDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 14,200 dan 14,265, sementara support di level 13,975 dan 13,800.
Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting, termasuk pengumuman suku bunga bank sentral Inggris dan Selandia Baru. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:
  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data tenaga kerja Unemployment Claims pada Kamis malam; disambung dengan rilis PPI dan Prelim UoM Consumer Sentiment pada Jumat malam. Hari Senin ini pasar Amerika tutup karena libur Labor Day.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis dataManufacturing Production Inggris pada Rabu sore; diikuti dengan rilis MPC Official Bank Rate bank sentral Inggris (BOE) pada Kamis sore yang diperkirakan bertahan di level rendah 0.50%.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis RBNZ Rate Statement dari Selandia Baru pada Kamis subuh yang diperkirakan turun ke level 2.75% dari level 3.00% saat ini; serta data inflasi China CPI y/y pada Kamis pagi.

Pasar Forex
Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar terlihat masih menguat walau lebih terbatas dari minggu sebelumnya dengan data tenaga kerja AS yang kurang menggembirakan sehingga dipandang oleh pasar agak menahan kemungkinan kenaikan bunga the Fed yang segera, di mana secara mingguan index dollar AS terpantau naik terbatas ke level 96.270. Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau naik turun dan berakhir melemah tipis ke level 1.1150. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level support pada 1.1015 dan 1.0815 sementara resistance pada 1.1720 dan kemudian 1.1865.
Poundsterling minggu lalu terlihat melemah ke level 1.5188 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.5820 dan 1.5945 sedangkan support pada 1.5160 dan kemudian 1.5090. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah ke level 119.54. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 121.65 dan 125.26, serta support pada 118.15 serta level 116.20. Sementara itu, Aussie dollar terpantau turun saja ke level 0.6942. Range minggu ini akan berada di antara support level di 0.6900 dan 0.6775, sementara resistance level di 0.7210 dan 0.7655.

Pasar Saham Kawasan
Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum melemah dengan masih merosotnya bursa saham daratan China oleh kekuatiran pasar terhadap situasi pelambatan ekonomi dunia yang dipimpin China. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau melemah ke level 17608. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 19210 dan 20665, sementara support pada level 17265 dan lalu 16550. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah ke level 20715. Minggu ini akan berada antara level resistance di 21317 dan 22440, sementara support di 20240 dan 19450.
Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau melemah sampai sekitar 3% oleh kekuatiran investor akan kenaikan suku bunga the Fed dengan segera serta lemahnya data pertumbuhan ekonomi China. Dow Jones Industrial secara mingguan melemah dalam pasar yang volatile ke level 16,102.38, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 16670 dan 17565, sementara support di level 15300 dan 14760. Index S&P 500 minggu lalu melemah ke level 1,921.22, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 1995 dan 2080, sementara support pada level 1860 dan 1820.

Pasar Emas
Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau agak terkoreksi lagi dengan dollar yang mulai bangkit kembali dan berakhir dalam harga emas dunia yang melemah tipis ke level $1123.00 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1170 dan berikut $1190, serta support pada $1110 dan $1080. Di Indonesia, harga emas terpantau naik sedikit ke level Rp514,430.
Dinamika pasar terus bergerak secara aktif, naik turun di pasar investasi. Gejolak kondisi perekonomian di China dan kawasan Eropa yang menguatirkan dunia sedangkan di Amerika tampaknya semakin kondusif walau masih labil, menyisakan kebingungan pasar untuk bagaimana menyikapinya. Sementara itu, perekonomian kawasan Asia yang selama ini tampil menawan, sekarang nyaris babak belur oleh arus modal keluar akibat terjadinya pergeseran dana investasi global. Itu yang sedang ramai terjadi dalam pasar finansial global. Kalau Anda tidak punya waktu banyak kesempatan untuk mengikuti dan mengartikan pergerakan pasar demikian, Vibiznews.com dapat membantu Anda sepenuhnya serta memanfaatkannya untuk keputusan investasi yang lebih akurat. Terima kasih telah bersama kami karena mengingat kami ada demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

By Alfred Pakasi ,
CEO Vibiz Counsulting
Vibiz Consulting Group

Tunggu Aksi The Fed, BI Masih Rem Semua Kebijakan Terkait Suku Bunga


Seperti diketahui, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) dipertahankan pada level 7,5 persen sejak 17 Februari 2015 silam, setelah sebelumnya tercatat lebih tinggi 25 basis poin selama tiga bulan sejak November 2014. Meski tahun 2015 ini tren ekonomi global cenderung melemah dan sebagian besar bank sentral di belahan dunia memangkas suku bunganya, namun tidak demikian dengan BI, hingga saat ini BI belum juga menurunkan suku bunganya. Padahal, pertumbuhan ekonomi pada kuartal-II tahun ini mengalami perlambatan dengan hanya mampu mencatat pertumbuhan sebesar 4,67 persen.
Dalam teori ekonomi, jika suku bunga acuan turun maka hal tersbeut otomatis dapat mendorong pertumbuhan dalam negeri dikarenakan pembiayaan perbankan ke sektor riil pun menjadi semakin murah harganya. Namun, rupanya BI memiliki alasan lain untuk tidak menurunkan suku bunga di bawah 7,5 persen. BI menilai bahwa pemangkasan BI rate bukanlah “obat” yang paling ampuh untuk menyelamatkan perlambatan ekonomi Indonesia saat ini dikarenakan tingkat inflasi yang sedang melambung tinggi. Oleh karena itu BI memang sengaja menahan konsumsi masyarakat agar inflasi tetap rendah.
Benar saja, inflasi pada  Agustus 2015 yakni 0,39 persen. Sedangkan inflasi tahun kalender Januari-Agustus 2015 sebesar 2,29 persen. Inflasi yang stabil membuat faktor produksi bekerja dengan nyaman. Sehingga suku bunga 7,5 persen masih menjadi stimulus bagi investor. Kebutuhan memangkas suku bunga BI belum menjadi opsi utama BI mengingat juga bahwa meski saat ini suku bunga masih tinggi saat nyatanya tidak langsung memukul kebutuhan primer seperti sembako (sembilan bahan pokok), karena yang pasti terkena dari suku bunga tinggi adalah konsumsi untuk kebutuhan sekunder dan tersier. 
Sejauh ini langkah BI selanjutnya masih menunggu kebijakan terbaru The Fed AS, ketidakpastian The Fed AS untuk menaikkan suku bunga acuannya telah membuat banyak orang mengambil ancang-ancang. Bagi BI, lebih cepat The Fed menaikkan suku bunga maka akn lebih baik karena BI bisa segera menghitung keseimbangan baru. Membaiknya perekonomian AS memang membuka ruang bagi The Fed untuk menaikkan suku bunganya, yang sudah sejak Mei 2013 digaungkan dan mulai saat itulah ketidakpastian pasar terjadi. 
Ketidakpastian pasar terjadi lantaran kenaikan suku bunga The Fed diyakini bakal menggiring dana masuk ke AS atau sering dikenal dengan istilah teori finance natural. Indonesia pun tak lepas dari gejolak ketidakpastian ini. Sebab dana-dana asing yang ada di Indonesia cukup banyak seperti 36 persen di pasar obligasi dan 60 persen di pasar modal. Kendati begitu, BI menegaskan bahwa tidak semua dana asing di emerging markets seperti Indonesia akan “hijrah” ke AS karena nantinya pasti akan ada rebalancing portfolio asing sesuai dengan keyakinan risiko atas fundamental sebuah negara
Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

Rabu, 01 Juli 2015

Bisnis Manufaktur Tanah Air Mulai Membaik


Meski kinerja industri manufaktur di negara-negara maju di Asia seperti Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan (Korsel) sedang melempem, nampaknya tidak demikian dengan Indonesia. Ada perkembangan positif pada geliat industri manufaktur pada kuartal kedua tahun ini, setelah terjadi tren peningkatan indeks manufaktur sejak April hingga Juni yang berimbas pada stabilnya penyerapan tenaga kerja di sektor industri manufaktur ini.

Berdasarkan data PMI Manufaktur yang rilis siang ini (1/7), dilaporkan bahwa PMI manufaktur Indonesia periode Juni 2015 terus meningkat jika dibandingkan Mei dan April. Pada Juni lalu, PMI Indonesia berada di posisi 47,8 terjadi tren kenaikan jika dibandingkan Mei yang berada di level 47,1 dan April 46,7. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini:



Di sepanjang tiga bulan berturut-turut kuartal kedua tahun ini, tren kenaikan PMI terus terjadi setelah sempat berada di titik terendah pada Maret di posisi 46,4. Sedangkan, selama semester I tahun ini, skor PMI tertinggi terjadi pada Januari sebesar 48,5. Namun demikian, angka 47,8 pada Juni ini menandakan kinerja industri manufaktur Indonesia masih berkontraksi. Sebab indeks PMI disebut mengalami ekspansi apabila angkanya berada di atas 50. 

Data PMI ini juga menunjukkan tekanan inflasi yang relatif tinggi, lantaran harga bahan baku dan hasil produksi naik sepanjang bulan lalu. Pabrik-pabrik masih mengurangi produksi, tertekan oleh permintaan yang lesu dari dalam negeri dan pasar ekspor. Kinerja manufaktur sepanjang kuartal II/2015 menjadi indikasi ekonomi Indonesia kemungkinan tumbuh lebih lambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Ke depan untuk menilai positif atau negatif tren manufaktur Tanah Air, harus dipastikan dengan melihat hasil survei beberapa bulan ke depan, minimal 4-5 bulan mendatang.



Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center

Editor: Asido Situmorang



Rupiah Bergerak Volatil, Dollar AS Masih Menguat


Pada perdagangan hari Rabu pagi mata uang rupiah terpantau mengalami pergerakan yang nyaris flat terhadap dollar AS (1/7). Rupiah mengalami pergerakan yang volatil dan sempat mengalami penurunan signifikan di awal perdagangan.

Rupiah masih terhalang oleh kenaikan dollar AS. Mata uang Negeri Paman Sam mengalami kenaikan akibat anjloknya euro. Pada perdagangan kemarin rupiah ditutup melemah dan menutup bulan Juni dengan pelemahan sebesar 0,64 persen.

Hari ini rupiah sempat dibuka pada posisi 13.351 per dollar. Rupiah melemah sebesar 12 poin dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin.

Saat ini nilai tukar rupiah mengalami pergerakan ke teritori positif. Rupiah berada di level 13.335 per dollar, menguat tipis sebesar 4 poin atau setara dengan 0,03 persen.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan hari ini berpotensi untuk kembali melemah ke teritori negatif. Tekanan jual yang dihadapi sangat kuat seiring dengan momentum kenaikan yang kembali dialami oleh dollar AS.

Mata uang rupiah hari ini berpotensi mengetes level support pada posisi 13.380 dan 13.450 per dollar AS pada perdagangan hari ini. Sedangkan level resistance harian yang akan dites ada pada 13.300 dan 13.250 per dollar.



Ika Akbarwati/VMN/VBN/Senior Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

Selasa, 30 Juni 2015

Ekonomi Jerman Terbebani Krisis Yunani, Laju Inflasinya Melambat


Seperti diketahui, Jerman merupakan salah satu negara maju yang juga tergabung dalam 19 negara di kawasan euro, bahkan negara ini adalah yang terkuat ekonominya diantara negara lainnya. Jerman juga tergolong sebagai negara industri paling berprestasi dan paling maju perkembangannya di dunia, serta merupakan perekonomian nasional terbesar keempat di dunia setelah Amerika Serikat (AS), Jepang dan Tiongkok.
Namun krisis ekonomi global yang melanda tahun 2008 silam, sepertinya telah mengubah semuanya, ekonomi negara-negara maju justru cenderung stagnan dan melemah belakangan ini. Tidak terkecuali Jerman, perekonomian Jerman justru saat ini terkesan masih sulit untuk mencetak laju inflasi yang sulit mencatat akselerasi.
Tadi malam (30/6), Kantor Destatis Jerman melaporkan bahwa rilis awal laju inflasi Jerman bulan Juni ini melambat setelah berhasil menyentuh level tertingginya dalam kurun 7 (tujuh) bulan terakhir pada Mei lalu. Adapun inflasi harga konsumen Jerman bulan Juni lalu mencatat penurunan melebihi yang diperkirakan yaitu berakhir sebesar 0,3 persen (yoy) dari sebesar 0,7 persen (yoy)yang tercatat di bulan Mei. Sebelumnya, para ekonom memprediksi inflasi hanya akan turun ke level 0,5 persen. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Dalam rilis Destatis tersebut dilaporkan juga bahwa jika dilihat pada basis bulanan, inflasi harga konsumen justru turun 0,1 persen pada Juni ini, kontras dengan kenaikan sebesar 0,1 persen yang tercatat di bulan Mei. Sebagai informasi saja, rilis akhir inflasi Jerman akan rilis pada tanggal 14 Juli mendatang.
Meski secara fundamental, kondisi internal ekonomi Jerman sendiri memang masih lemah, pelemahan ekonomi Jerman makin dibebani oleh Krisis Yunani yang memburuk. Seperti diketahui, Jerman juga merupakan salah satu pendonor untuk Yunani, sehingga jika Yunani default maka tentu akan terasa imbasnya terhadap Jerman.
Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang
www.vibiznews.com 

Minat Berbelanja Di Inggris Sedang Lemah, Penyaluran Kredit Kembali Menurun


Tadi malam (30/6), Bank of England (BOE) kembali melaporkan bahwa jumlah persetujuan hipotek di Inggris periode Mei 2015, secara tidak terduga membukukan penurunan yang lumayan. Dalam rilis BOE tersebut, jumlah hipotek yang disetujui untuk pembelian rumah turun menjadi 64.434 dari sebanyak 67.580 yang tercatat di bulan April. Padahal, sebelumnya para ekonom memprediksi jumlah hipotek yang disetujui akan naik menjadi sebanyak 68.900.
Sementara itu masih pada saat yang sama, jumlah kredit konsumen di Inggris juga dilaporkan meningkat menjadi sebesar GBP 1,0 miliar, sedikit lebih lambat dari kenaikan sebesar GBP 1,1 miliar yang sebelumnya diperkirakan ekonom dan lebih lambat dari pertumbuhan sebesar GBP 1,2 miliar yang tercatat pada bulan sebelumnya, bulan April. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Melalui grafik diatas dapat dilihat bahwa laju penyaluran kredit konsumer oleh sektor perbankan di Inggris terus menurun. Hal ini sedikit banyak mencerminkan bahwa kegiatan konsumsi masyarakat di Inggris sedang lesu. Sebelumnya juga dilaporkan bahwa tingkat penjualan ritel Inggris periode Mei 2015 melambat tajam setelah berhasil bukukan pertumbuhan yang kuat pada bulan April. 
Namun, meski penjualan ritel dan penyaluran kreditnya bukukan penurunan, laju belanja konsumen Inggris ke depannya dinilai masih akan berada pada jalur yang positif karena laju inflasinya yang masih rendah, namun terjadi kenaikan upah, sehingga hal ini bisa menjadi umpan bagi sektor rumah tangga di Inggris untuk memiliki disposable income. Seperti diketahui, pertumbuhan upah pada April lalu adalah yang tercepat dalam kurun 4 (empat) tahun terakhir.

Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang










Senin, 29 Juni 2015

Market Outlook 29 Juni – 3 Juli 2015


Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia terpantau melemah kembali oleh minimnya sentimen positif, tekanan short profit taking, serta imbas kekuatiran pasar global akan krisis Yunani, sehingga secara mingguan bursa ditutup melemah 1.2% ke level 4,923.01. Untuk minggu berikutnya ini (28 Juni – 3 Juli) IHSG kemungkinan masih dalam tekanan sehingga bursa agak melandai. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di posisi 5000 dan 5100, sedangkan support di level 4825 dan kemudian 4652.

Mata uang rupiah seminggu lalu terpantau balik lagi melemah menghadapi rebound-nya rally dollar di pasar global, di mana secara mingguan rupiah melemah ke level 13.338. Kurs USDIDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 13.390 dan 14.200, sementara support di level 13.270 dan 13.230.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting, termasuk rilis Non-Farm Employment Change dan Unemployment Rate yang acap kali menjadi perhatian pasar. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

Darikawasan Amerika: berupa rilis data CB Consumer Confidence pada Selasa malam; dilanjutkan dengan data ADP Non-Farm Employment Change dan ISM Manufacturing PMI pada Rabu malam; kemudian rilis Non-Farm Employment Change dan Unemployment Rate yang kerap jadi perhatian pasar, serta berikutnya data tenaga kerja Unemployment Claims pada Kamis malam; sedangkan Jumat pasar Amerika tutup karena merayakan hari kemerdekaan mereka (Independence Day).
Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa Eurogroup Meetings pada hari Selasa; selanjutnya rilis Manufacturing PMI Inggris pada Rabu sore; disambung dengan data Construction PMI Inggris pada Kamis sore.
Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis Tankan Manufacturing Index di Jepang, HSBC Final Manufacturing PMI untuk China pada Rabu pagi.
Pasar Forex
Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar terlihat bangkit dari koreksi pasarnya karena ketidakjelasan penyelesaian krisis Yunani melemahkan euro, di mana secara mingguan index dollar AS terpantau alami rebound ke level 95.360. Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau menurun ke level 1.1170. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level support pada 1.0815 dan 1.0660 sementara resistance pada 1.1467 dan kemudian 1.1870.

Poundsterling minggu lalu terlihat melemah ke level 1.5744 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.5945 dan 1.6275 sedangkan support pada 1.5160 dan kemudian 1.4854. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat ke level 123.80. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 125.86 dan 129.20, serta support pada 120.64 serta level 118.30. Sementara itu, Aussie dollar terpantau turun tipis ke level 0.7656. Range minggu ini akan berada di antara support level di 0.7595 dan 0.7456, sementara resistance level di 0.7838 dan 0.8170.

Bursa Saham Kawasan
Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum agak mixed dengan tekanan pasar di akhir pekan karena isyu Yunani yang masih menguatirkan. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau menanjak ke level 20706. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 20965 dan 21200, sementara support pada level 19965 dan lalu 19220. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah ke level 26610. Minggu ini akan berada antara level resistance di 28600 dan 29000, sementara support di 26345 dan 25100.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau berakhir melemah diwarnai oleh kekuatiran pasar bahwa krisis Yunani akan menuju default yang dapat memberikan sentimen negatif atas pasar modal global. Dow Jones Industrial secara mingguan melemah ke level 17,950.55, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 18350 dan 18420, sementara support di level 17695 dan 17570. Index S&P 500 minggu lalu melemah tipis ke level 2,101.42, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2130 dan 2200, sementara support pada level 2067 dan 2030.

Pasar Emas
Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau agak melemah dengan menguatnya kembali mata uang US$, di mana harga emas dunia melemah terbatas ke level $1174.25 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1232 dan berikut $1300, serta support pada $1162 dan $1140. Di Indonesia, harga emas terpantau turun sedikit ke level Rp502,238.

Berbagai isyu ekonomi global silih berganti mewarnai pegerakan pasar investasi acapkali secara bergantian, misalnya situasi perkembangan ekonomi di Amerika Serikat, lalu krisis Yunani, dan seterusnya. Di sisi lain perkembangan ekonomi domestik Indonesia juga bergerak dinamis yang membuat dana asing masuk keluar dengan aktif. Kita melihat bahwa fundamental ekonomi begitu significant dalam memengaruhi pasar. Bagi investor lokal yang, katakanlah, bukan berlatar belakang pendidikan ekonomi kadang tidak mudah untuk memahami dinamika berbagai indikator perekonomian tersebut. Kendala itu bukan merupakan masalah kalau Anda terus menyimak berita dan analisis pasar di vibiznews.com. Banyak orang telah mengakuinya. Terima kasih tetap bersama kami karena kami hadir demi mendukung sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!


By Alfred Pakasi ,

CEO Vibiz Counsulting
Vibiz Consulting Group
www.vibiznews.com 


Industri Otomotif Tanah Air Merosot, Produksi Harus Digencarkan Lagi


Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat bahwa selama periode Januari-Mei tahun 2015 ini angka produksi kendaraan roda empat di Indonesia hanya mencapai 486.172 unit. Angka ini merosot 12,8 persen dari periode yang sama tahun lalu (Mei 2014) yang jumlahnya mencapai 558.023 unit. Sementara itu jika ditilik dalam kurun dua tahun belakangan, maka tingkat produksi sepanjang tahun ini merupakan yang terendah. Pada 2013, produksi selama lima bulan pertama masih lebih tinggi, yakni sekitar 489.762 unit.
Merosotnya produksi mobil dari pabrikan dalam negeri merupakan buntut terpukulnya pasar domestik. Kelesuan tersebut telah memaksa Gaikindo merevisi target penjualan tahun ini yang sebelumnya dipatok 1,2 juta unit ke level 1-1,1 juta unit. Menurut data Gaikindo, penurunan pasar domestik tecermin dari penjualan ke dealer yang hingga Mei tahun ini merambat di kisaran 443.181 unit. Volume penjualan itu melemah 16,6 persen bila dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu sekitar 531.504 unit.
Asean Automotive Federation (AAF) juga melansir bahwa jumlah mobil yang diproduksi di kawasan Asean berkurang 1,1 persen pada Januari-Maret 2015 dengan hanya menorehkan angka produksi 1,04 juta unit. Penurunan tersebut disebabkan oleh berkurangnya jumlah produksi mobil perusahaan-perusahaan Indonesia. Menurut data AAF, produksi kendaraan roda empat Indonesia turun 12,1 persen dari sebelumnya 340,5 ribu unit pada kuartal I 2014 menjadi 299.409 unit di kuartal I 2015. Sayangnya, ketika industri otomotif nasional terpuruk, empat negara produsen mobil lainnya di Asean justru menuai berkah.
Thailand sebagai pesaing terdekat Indonesia selama ini berhasil mencatatkan pertumbuhan produksi otomotif sebesar 1,4 persen dengan total produksi 524.540 unit. Sedangkan, pertumbuhan produksi terbesar terjadi di Vietnam, yakni sebesar 49,1 persen. Apabila pada kuartal I 2014 angka produksi Vietnam sebesar 22.274 unit, maka pada tiga bulan pertama 2015 angkanya melonjak jadi 33.207 unit. Sementara produksi mobil Malaysia dan Filipina masing-masing tumbuh 6,6 persen dan 4,3 persen.
Sejauh ini, Thailand masih menjadi basis produksi otomotif terbesar di ASEAN, yakni menguasai 50,3 persen atau naik dari sebelumnya yang tercatat 49,1 persen. Indonesia berada di peringkat kedua, dengan ikut memasok mobil sebesar 28,7 persen ke kawasan Asean. Angka tersebut menciut dari sebelumnya 32,3 persen pada kuartal I 2014. Sementara Vietnam, Filipina, dan Malaysia mulai mengambil peran lebih di pasar otomotif kawasan seiring dengan meningkatnya produksi mobil masing-masing. Pangsa produksi Vietnam tercatat sebesar 3,2 persen, meningkat dari periode sebelumnya 2,1 persen. Sedangkan Filipina naik sedikit dari 1,9 persen menjadi 2 persen. Terkahir Malaysia, hingga Maret lalu memasok kendaraan 15,7 persen ke kawasan dari sebelumnya 14,6 persen.

Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang
www.vibiznews.com 

WNA Boleh Miliki Properti Dalam Negeri, Waspadai Lonjakan Harga dan Over Supply


Pekan lalu, Menteri Keuangan RI, Bambang P.S Brodjonegoro menegaskan bahwa warga asing hanya boleh memiliki apartemen mewah senilai Rp 5 miliar ke atas saja. Hal itu disampaikannya terkait rencana revisi Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1996 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia.

Kebijakan pemerintah untuk memasukan apartemen mewah dalam objek pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) tidak memandang kewarganegaraan sang wajib pajak. Menurutnya, warga asing juga tetap menjadi wajib pajak apabila diketahui membeli dan memiliki apartemen mewah.

Seperti diketahui, sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi sinyal akan menerima usulan REI agar Warga Negara Asing (WNA) diizinkan memiliki properti di Indonesia meski dibatasi pada kisaran tertentu. Wacana dilakukan dengan harapan agar dapat mendongkrak industri properti Indonesia. Tentu saja kebijakan ini menuai protes publik. Kebanyakan berpendapat bahwa jika pemerintah tetap membedakan status kepemilikan properti tersebut, maka hal itu justru akan menimbulkan risiko aset tersebut nantinya tidak dapat dijual kepada WNI.

Akibatnya, untuk dapat memanfaatkan kebijakan tersebut maka pengembang properti harus membangun sebuah menara apartemen yang berbeda untuk orang asing dengan yang diperuntukkan bagi orang lokal. Hal tersebut justru akan meningkatkan risiko persediaan properti yang tidak terjual menjadi tinggi, dan membuat para pengembang meredam minat untuk menjual produknya kepada ekspatriat.

Tidak hanya itu, bumerang lainnya bagi Indonesia adalah melonjaknya harga hunian di Indonesia. Pasalnya, dengan daya beli orang asing yang lebih tinggi akan meningkatkan permintaan properti di dalam negeri. Hal ini,  sekaligus menjadi sebuah peringatan bagi pengembang properti lokal untuk belajar dari pasar global, terutama Tiongkok yang saat ini mengalami perlambatan ekonomi karena terbeban oleh sektor propertinya. Karenanya, pengaturan mengenai properti yang dirasa memiliki multiplier effect cukup tinggi harus tetap dilakukan pemerintah agar tidak memberatkan ekonomi masyarakat lokal yang akan menanggung tingginya harga properti.


Sumber: www.vibiznews.com 


Jumat, 26 Juni 2015

Setelah Q1 Kontraksi, Proyeksi Ekonomi AS di Q2 Tetap Optimis


Seperti diketahui, kinerja ekonomi Amerika Serikat (AS) cukup mengecewakan pada kuartal pertama tahun ini. Dalam laporan yang dirilis semalam, tercatat bahwa kinerja ekonomi AS mengalami kontraksi pada kuartal pertama tahun ini sebagai dampak dari cuaca buruk yang menimpa AS sejak akhir tahun 2014 hingga awal tahun ini, apresisasi dolar terhadap hampir semua mata uang mitra dagang utama AS, dan pemangkasan belanja investasi di sektor energi. (Lihat juga: Penguatan Ekspor Menguntungkan Kinerja Ekonomi AS Yang Tercatat Kontraksi Pada Q1/2015)

Meski mencatat kontraksi pada kuartal pertama tahun ini, namun angka penyusutan pada kinerja ekonomi AS tersebut masih lebih baik dari prediksi ekonom. Nampaknya laju pengeluaran konsumen dan akumulasi persediaan yang cukup kuat pada kuartal pertama lalu telah memberikan kontribusi positif terhadap PDB Q1/2015 AS. Seperti diketahui, laju belanja konsumen AS selama ini telah menyumbang hingga lebih dari dua pertiga terhadap ekonomi AS berhasil mencatat pertumbuhan 2,1 persen. Pulihnya belanja konsumen negara ini disokong oleh membaiknya pasar tenaga kerja AS sehingga memacu pertumbuhan upah yang lebih kuat.

Sebagai informasi juga, jumlah tabungan pribadi meningkat pada jumlah yang cukup kuat pada kuartal pertama lalu, menyentuh angka sebesar $ 720.200.000.000. Sementara itu, meski jumlah pertumbuhan ekspor AS direvisi membaik pada kuartal pertama lalu, namun defisit perdagangannya masih cukup besar. Pasca dirilisnya PDB AS untuk Q1/2015 ini, saham-saham AS yang diperdagangkan menjadi sedikit lebih rendah sebagai dampak dari kekhawatiran negosiasi utang antara Yunani dan kreditor asing tidak akan mencapai kesepakatan.

Meski kinerja ekonomi AS pada kuartal pertama lalu mencatat kontraksi, nampaknya hal itu tidak mengikis optimisme pemerintahann AS terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi AS untuk kuartal kedua ini dengan target di kisaran 2,0 – 3,0 persen. Pemerintah AS melihat bahwa saat ini kinerja pasar tenaga kerja AS menunjukkan laju pemulihan dan pertumbuhan yang cukup solid, dimana jumlah pengangguran berhasil ditekan dan kenaikan upah terealisasi. 

Berbeda lagi dengan The Fed yang menurunkan proyeksi PDB AS untuk tahun 2015 ini menjadi 1,8 – 2 persen, lebih rendah dari estimasi sebelumnya sebesar 2,3 – 2,7 persen. Sedangkan proyeksi pertumbuhan untuk 2016 juga sedikit mengalami revisi menjadi 2,4-2,7 persen, sementara untuk 2017 menjadi 2,1-2,5 persen.

Terkait kenaikan suku bunganya, The Fed masih konsisten dengan terus menanti perkembangan data ekonomi negaranya di kemudian hari, sementara itu CPI juga diprediksi masih akan di bawah target, dengan proyeksi 2015 tetap di kisaran 1,3-1,4 persen. Sedangkan tingkat pengangguran diprediksi akan berkisar 5,2-5,3 persen, lebih pesimistik dibanding estimasi sebelumnya sebesar 5-5,2 persen.





Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

Kamis, 25 Juni 2015

Tiongkok dan India Akan Jadi 2 Raksasa Ekonomi Asia


Economist Intelligence Unit memprediksi terdapat lima negara yang bakal menguasai perekonomian global pada 2050. Dalam laporan Economist Intelligence Unit (EIU), lima negara tersebut adalah Tiongkok, Amerika Serikat (AS), India, Meksiko dan Indonesia. Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa Meksiko akan menggeser posisi Rusia, sementara Indonesia akan menggeser posisi Italia dalam kurun waktu 10-35 tahun mendatang.

Tiongkok sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia juga diprediksi akan menggeser posisi AS pada awal 2026 dalam hal produk domestik bruto. Dalam hal pendapatan per kapita, Tiongkok diproyeksikan hampir setara Jepang pada tahun 2050, dan berada di bawah pendapatan per kapita AS per 2014. Masih menurut laporan sama, PDB Asia juga diperkirakan akan mencapai 53 persen pada tahun 2050, meski pangsa Eropa menurun. Tapi untuk peningkatan populasi usia kerja, Afrika dan Timur Tengah kemungkinan akan mengalami pertumbuhan signifikan.

Banyak negara Eropa dan Asia Timur diprediksi akan mengalami penurunan angkatan kerja, di mana Jepang diperkirakan akan mengalami penurunan terbesar hingga lebih dari 25 persen. Demikian juga dengan Tiongkok dan Korea Selatan juga akan mencatat kontraksi di pasar tenaga kerja hingga menyentuh 18 persen. Dan yang lebih buruk lagi akan menimpa Yunani, Portugal dan Jerman yang diperkirakan akan turun lebih dari seperlima.

Tidak hanya itu, dua raksasa baru perekonomian di Asia diprediksi akan muncul dalam kurun 10-35 tahun mendatang yaitu Tiongkok dan India. Oleh karena itu maka menjaga kestabilan kekuatan politik juga sangat diperlukan. Oleh karena itulah kedua negara tersebut diproyeksikan akan mengambil peran lebih besar dalam mengatasi isu-isu global seperti perubahan iklim, keamanan internasional dan tata kelola ekonomi global. Namun demikian, dalam jangka menengah ini tentu support dari kekuasaan dunia yang ada saat ini, AS sangat diperlukan untuk membiarkan India, dan terutama Tiongkok, memainkan peran yang lebih besar di panggung dunia dan beradaptasi dengan lembaga-lembaga internasional untuk memungkinkan mereka menggunakan pengaruh yang lebih besar.

Sebagai informasi saja, tahun 2014 sepertinya bukan menjadi tahun keberuntungan bagi Tiongkok. Laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada 2014 kemarin menyentuh laju paling lambatnya dalam kurun 24 tahun terakhir. Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok pada 2014 kemarin sebesar 7,4 persen, lebih rendah jika dibanding dengan setahun sebelumnya yang tercatat 7,7 persen. Pemerintah Tiongkok sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,5 persen. Adapun yang menjadi penyebab lesunya ekonomi Tiongkok hingga saat ini adalah anjloknya sektor properti di Negeri Tirai Bambu tersebut.



Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

Selasa, 23 Juni 2015

Ekonomi Hongkong Kian Tertekan, Surplus Current Account Terkikis


Seperti diketahui bersama, ekonomi Hong Kong (HK) memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap ekonomi Tiongkok daratan. Tidak hanya bergantung pada Tiongkok, ekonomi HK juga bergantung pada Amerika Serikat (AS) yang merupakan mitra dagang utamanya. Isu kebijakan moneter yang akan diambil oleh AS terkait kenaikan suku bunganya cukup memengaruhi perekonomian HK hingga hari ini, terutama mengingat tingginya nilai investasi asing di wilayah ini.

Perekonomian HK belakangan ini pun terus menunjukkan laju pemulihan yang tidak optimal karena terkena imbas dari pelemahan ekonomi global, dapat dilihat dari laju belanja ritelnya yang tertahan meskipun pasar tenaga kerjanya terus membukukan progress yang positif. Salah satu yang menyebabkan kinerja ekonomi HK tergerus saat ini adalah karena perekonomian Tiongkok yang erat kaitannya dengan HK juga sedang melemah.

Malam ini, Departemen Statistik HK merilis laporan transaksi berjalan untuk kuartal pertama tahun ini dimana dalam rilis tersebut terlihat bahwa surplus transaksi berjalan HK tergerus cukup tajam di sepanjang Q1/2015 lalu. Dalam laporan tersebut tertulis bahwa surplus neraca pembayaran HK naik menjadi HK $ 36.300.000.000 pada kuartal pertama dari sebesar HK $ 26.700.000.000 yang tercatat pada kuartal keempat. Sementara itu pada basis tahunan, transaksi berjalan HK  berhasil mencatat surplus sebesar HK $ 0,4 miliar. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini:


Dapat dilihat melalui grafik diatas bahwa kinerja neraca berjalannya cenderung terus tergerus. Nampaknya, saat ini ekonomi HK memang sedang tertahan laju pertumbuhannya sebagai imbas dari lemahnya perekonomian mitra dagang utamanya. Tidak hanya itu wabah penyakit MERS yang baru-baru ini enjamur di Korsel, ternyata diisukan juga mulai merebak di wilayah ini sehingga sektor pariwisata dan laju belanja konsumen di HK kemungkinan besar akan terpukul menyusul rekam jejak yang lebih dulu dialami Korsel baru-baru ini.

Sejauh ini ekonomi HK diprediksi akan alami pertumbuhan sebesar 2,95 persen pada tahun 2015, sedangkan Tiongkok masih terus akan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi dimana pada tahun 2015 ini diproyeksikan akan tumbuh dibawah 7 persen mengingat masih besarnya tingkat utang yang dipikul pemerintah Tiongkok dan masih lambatnya pemulihan di sektor property.



Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang


Krisis Yunani Kikis Optimisme Konsumen di Kawasan Euro

Tingkat kepercayaan konsumen di kawasan euro pada bulan Juni ini dilaporkan kembali memburuk memasuki bulan ketiganya berturut-turut. Pasalnya di bulan Juni ini, optimisme konsumen di wilayah ini semakin terkikis karena adanya isu krisis Yunani yang sudah cukup menekan aktivitas bisnis di wilayah ini. (Lihat juga: Drama Grexit Segera Berakhir, Ada Sedikit Harapan Bagi Yunani)

Adapun rilis awal survey consumer confidence ini dikeluarkan oleh Eurostat hari ini (22/6) berdasarkan survey terhadap 2300 konsumen di seluruh kawasan Euro mengenai kondisi perekonomian kawasan saat ini dan di waktu yang akan datang. Angka indeks positif (lebih besar nol) menunjukkan optimisme dan angka indeks yang negatif menunjukkan pesimisme. Dalam rilisnya, tercatat bahwa Indeks kepercayaan konsumen di kawasan euro kembali melanjutkan fase kontraksinya yaitu sebesar -5,6 pada bulan Juni ini, angka ini lebih besar dari periode bulan sebelumnya. 
 
 
Sepertinya, perekonomian kawasan euro ke depan masih akan terus tertekan oleh krisis di Yunani. Pasalnya dalam pertemuan darurat yang dilakukan oleh pemimpin Eurogroup kemarin untuk menentukan nasib Yunani sebagai anggota kawasan euro tidak berhasil mencapai kesepakatan. Diperkirakan negosiasi ini akan mencapai klimaksnya pekan ini dimana kanselir Jerman Angela Merkel akan kembali bertemu dengan perdana menteri Yunani Alexis Tsipras untuk membahas nasib Yunani ke depan.

Ditengah ketegangan politik yang dialami Yunani dan pelemahan ekonomi global saat ini, Bank Sentral Eropa (ECB) kembali memutuskan tetap mempertahankan suku bunga rendahnya, tidak berubah dari bulan-bulan sebelumnya. ECB masih mempertahankan suku bunga rendah sebesar 0,05 persen. Selain itu, suku bunga deposito juga tetap tidak berubah masih berada pada -0,20 persen dan suku bunga pinjaman marjinal masih tercatat sebesar 0,30 persen. Sebagai informasi, ketiga suku bunga utama tersebut telah diturunkan sebesar 10 basis poin pada bulan September 2014 lalu.


Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

Senin, 22 Juni 2015

Pengangguran Bertambah, Indonesia Susul Tiongkok dan Korsel


Seperti diketahui, kinerja ekspor yang menurun, dan kondisi perekonomian global yang masih belum menunjukkan ketidakpastian telah berdampak pada perlambatan ekonomi nasional di Triwulan I 2015 dengan menyentuh level terendahnya dalam kurun 6 (enam) tahun terakhir.  Pertumbuhan ekonomi Indonesia di sepanjang Triwulan I-2015 mengalami perlambatan yakni hanya mencapai 4,71%,  dibandingkan periode yang sama tahun 2014. Lemahnya pertumbuhan ekonomi Tanah Air hingga saat ini telah berdampak terhadap kinerja perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Sebagian besar perusahaan di Tanah Air mulai memangkas belanja modalnya dan tak urung juga memangkas jumlah karyawannya dengan alasan efisiensi. Tentu saja hal ini menimbulkan masalah baru lagi bagi Indonesia, yaitu masalah pengangguran. Berdasarkan data historis, pada Feruari 2015 lalu tingkat pengangguran di Indonesia menyentuh angka 5,81 persen atau tercatat sebesar 7,4 juta orang, naik tipis dari Februari 2014 yang tercatat sebesar 5,70 persen.

Fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di negara ini mulai membayangi aktivitas dan perilaku para pelaku bisnis maupun masyarakat. Kebanyakan yang terkena dampak dari lesunya ekonomi Indonesia saat ini adalah kelompok orang-orang muda yang masih minim pengalaman. Berdasarkan data, hingga tahun 2013 lalu tingkat pengangguran kaum muda di Indonesia tercatat lebih dari 20 persen. Masalah pasar tenaga kerja ini semakin buruk juga karena Indonesia adalah salah satu negara yang mengalami bonus demografi, menyusul Tiongkok dan Korea Selatan. Tiongkok pada kuartal pertama tahun ini cetak tingkat pengangguran 4,1% sedang Korsel pada bulan lalu 3,9%.

Sebelumnya banyak ekonom maupun pebisnis yang cukup optimis dengan memasuki masa bonus demografi ini akan membuat produktivitas ekonomi dalam negeri tergenjot. Namun nampaknya hal tersebut tidak akan terjadi jika tidak didukung dengan fundamental ekonomi yang kuat, dalam kondisi lemah seperti ini bonus demografi justru akan menjadi “bencana” bagi perekonomian Indonesia.

Beberapa sektor industri Tanah Air pun ikut tergerus, seperti industri tambang, selain karena adanya larangan ekspor bijih besi yang diberlakukan pemerintah sejak awal tahun lalu, penurunan harga komoditas global juga cukup menekan pergerakan sektor tambang dalam negari. Tidak hanya sektor tambang, sektor industri padat karya seperti tekstil dan manufaktur juga kian tertekan oleh pelemahan rupiah yang telah menyentuh level terendahnya dalam 17 tahun terakhir, sehingga mengakibatkan pembelian bahan baku impor menjadi semakin mahal.

Dalam siklus selanjutnya, tingginya tingkat pengangguran dalam negeri akan memukul aktivitas konsumsi Tanah Air yang selama ini menjadi kontributor penggerak ekonomi yang cukup besar bagi Tanah Air. Untuk mengantisipasi lemahnya konsumsi, pemerintah memang melakukan terobosan-terobosan di bidang fiskal utamanya, seperti pembebasan pajak barang mewah (PPnBm) dan mengurangi separuh suku bunga kredit untuk usaha kecil.

Sejak pertengahan 2013 hingga akhir tahun 2014 lalu, jumlah orang asing yang memegang izin kerja di Indonesia diperkirakan telah turun 20 persen menjadi sekitar 62.000, hal ini terjadi karena sebagian besar tenaga asing melihat peluang yang lebih baik akan lebih banyak diperoleh di negara-negara Barat. Lemahnya perekonomian Indonesia yang sudah terasa sejak tahun lalu semakin kuat hingga semester I tahun ini.





Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

Market Outlook 22 – 26 Juni 2015


Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia terpantau mengalami rebound oleh sentimen bursa kawasan, aksi beli investor asing di level bawah, serta pembangunan infrastruktur  yang ramai diberitakan, sehingga secara mingguan bursa ditutup menguat 0.99% ke level 4,985.01 setelah sempat terpuruk secara intraday pada 4826. Untuk minggu berikutnya ini (22-26 Juni) IHSG sedang menapaki uptrend-nya yang kerap kali rawan juga dengan profit taking.  Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di posisi 5150 dan 5350, sedangkan support di level 4852 dan kemudian 4830.

Mata uang rupiah seminggu lalu terpantau tetap melemah menghadapi keperkasaan rally dollar walau sedang sedikit terkoreksi di pasar global, di mana secara mingguan rupiah melemah ke level 13.324. Kurs USDIDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 13.390 dan 14.200, sementara support di level 13.270 dan 13.230.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah: 
  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data Existing Home Sales pada Senin malam; dilanjutkan dengan data Core Durable Goods Orders m/m pada Selasa malam; kemudian rilis Final GDP q/q pada Rabu malam; berikutnya data tenaga kerja Unemployment Claims pada Kamis malam. 
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa Eurogroup Meetings pada Senin sore; selanjutnya rilis data German Flash Manufacturing PMI pada Selasa sore; disambung dengan data German Ifo Business Climate pada Rabu sore; kemudian rilis Retail Sales m/m Inggris pada Kamis sore. 
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis HSBC Flash Manufacturing PMI untuk China pada Selasa  pagi.


Pasar Forex
Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar terlihat masih terkoreksi secara perlahan dengan adanya usulan reformasi yang baru untuk penyelamatan Yunani, di mana secara mingguan index dollar AS terpantau alami koreksi lanjutan ke level 94.245. Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau menaik ke level 1.1364. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level support pada 1.0815 dan 1.0660 sementara resistance pada 1.1467 dan kemudian 1.1870.

Poundsterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.5875 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.5945 dan 1.6275 sedangkan support pada 1.5160 dan kemudian 1.4854. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah ke level 122.78. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 125.86 dan 129.20, serta support pada 120.64 serta level 118.30. Sementara itu, Aussie dollar terpantau turun tipis ke level 0.7767. Range minggu ini akan berada di antara support level di 0.7595 dan 0.7456, sementara resistance level di 0.7838 dan 0.8170.

Bursa Saham Kawasan
Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum melemah walau ada koreksi naik di akhir pekan mengikuti pergerakan bursa global. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau terkoreksi terbatas ke level 20174. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 20670 dan 21000, sementara support pada level 19220 dan lalu 18915. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah ke level 26650. Minggu ini akan berada antara level resistance di 28600 dan 29000, sementara support di 26345 dan 25100.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau berakhir menguat setelah testimony the Fed di pertengahan minggu menunjukkan bahwa mereka tidak terlalu terburu-buru untuk menaikkan suku bunga the Fed. Dow Jones Industrial secara mingguan menguat ke level 18,010.48, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 18350 dan 18420, sementara support di level 17695 dan 17570. Index S&P 500 minggu lalu menguat ke level 2,111.68, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2130 dan 2200, sementara support pada level 2067 dan 2030.

Pasar Komoditi Emas
Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau agak menguat dengan terkoreksinya mata uang US$, di mana harga emas dunia menguat terbatas ke level $1198.65 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1232 dan berikut $1300, serta support pada $1162 dan $1140. Di Indonesia, harga emas terpantau naik sedikit ke level Rp512,770.

Isyu global tetap ramai menjadi topik perbincangan di pasar investasi saat ini. Gejolak di Yunani, misalnya, terus  menjadi topik diskusi yang ramai di antara para investor. Para pelaku investasi saling silang berbeda pendapat di mass media dan forum diskusi. Ini sering membingungkan para investor individual dalam menentukan strategi investasi mereka. Gabung saja menjadi member vibiznews dan Anda akan memperoleh secara rutin harian pandangan pasar dan rekomendasi aksi pasar berikutnya. Dengan tingkat akurasi yang menarik, investor harusnya akan banyak diuntungkan dengan cara yang cerdas dan praktis. Terima kasih telah bersama dengan kami yang merupakan partner demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews


By Alfred Pakasi ,
CEO Vibiz Counsulting
Vibiz Consulting Group

Jumat, 19 Juni 2015

Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Indonesia Terhadap Ancaman Resesi


Dalam sebuah paparan tinjauan ekonomi baru-baru ini ada disebutkan bahwa perekonomian Indonesia saat ini sedang menuju resesi, bahkan dikategorikan sudah di zona resesi. Martin Panggabean, ekonom senior Indonesia Green Investment Collectives (IGIco), menyebutkan bahwa dilihat dari berbagai leading indicator economy, Indonesia kini bisa dikategorikan dalam tren menuju resesi. Tinjauan tersebut kemudian cukup ramai dikutip berbagai media masa (16/6/2015).

Indikasi dari kondisi menuju resesi ini, menurut Martin, tercermin dimana dalam satu tahun terakhir suku bunga pinjaman relatif naik, nilai tukar anjlok, bursa saham turun, pertumbuhan kredit melemah, begitu pun harga komoditas melorot.

Penggunaan istilah “resesi” di sini sebenarnya agak mengejutkan mengingat perekonomian Indonesia saat ini masih tetap bertumbuh positif, walaupun dalam tren yang melambat. Sementara resesi itu biasanya didefinisikan bila terdapat kondisi pertumbuhan ekonomi negatif suatu Negara dalam dua kuartal berturut-turut. Namun Martin menggambarkan kondisi tren resesi ini dengan mengambil sejumlah data indikator ekonomi.

Kita tahu memang bahwa dalam kurun waktu hampir lima tahun terakhir ini pertumbuhan ekonomi Indonesia terus merosot. Di akhir 2010 laju pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 6,81%, dan selanjutnya dalam kurun waktu dua tahun berikutnya Indonesia sempat disebutkan mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di dunia setelah China. Sekarang, sebutan itu tidak relevan lagi. Jadi, melihat tren pelambatan ekonomi seperti itu, apakah benar bahwa ekonomi kita sedang melaju menuju resesi? Atau, malah sudah di dalam zona tersebut? Suatu gambaran yang dapat mencemaskan masyarakat akan terulangnya gejolak “krismon” pada 17 tahun lalu, apalagi rupiah sudah berada di area 17 tahun terendahnya juga.

Begitu negatifkah ekonomi Indonesia? Sepertinya tidak juga. Mari kita kaji secara lebih mendalam.



Menengok Resesi 1998

Paparan di atas mungkin pantas untuk ditelaah dan menjadi suatu peringatan bagi para pelaku ekonomi dan bisnis. Namun demikian, menurut penulis, istilah “resesi” sebaiknya dikembalikan kepada definisi awalnya yang sudah dipakai secara global, yaitu pertumbuhan ekonomi yang negatif selama paling kurang dua kuartal berturut-turut. Bila ini yang dipakai, maka analisis resesi dari periode ke periode menjadi konsisten dan dapat diperbandingkan.

Kita tentunya tidak ingin krisis ekonomi 1998 terulang lagi. Kondisi ekonomi saat itu memang layak disebut “resesi”. Pertumbuhan ekonomi di tahun 1998 itu adalah -13,12%! Anjlok sangat tajam dari pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya: yaitu 8,22% (1995); 7,82% (1996); dan 4,70% (1997) saat ekonomi mulai terhantam. Berikutnya di tahun 1999 ekonomi berusaha cepat bangkit di angka 0,84%. Pemulihan ini relatif cepat dibandingkan dengan resesi akibat kasus subprime mortgage di Amerika (2008) yang menekan sampai sekitar lima tahunan.

Perbedaan kondisi mencolok saat ini dengan resesi 1998 bisa terlihat dari, misalnya waktu itu rupiah pernah tergerus nilainya sampai 70% hanya dalam satu bulan saja, yaitu pada Januari 1998, dari Rp4.000 terjun bebas menjadi Rp13.000 per 1 USD. Sementara saat ini, dari awal tahun nilai rupiah tergerus sekitar 6% dalam periode hampir enam bulan, walaupun itu sudah termasuk yang terparah dibandingkan depresiasi mata uang negara-negara tetangga Asia lainnya.  Laju inflasi di tahun 1998 waktu itu adalah 77,6%, sementara untuk tahun ini Pemerintah menargetkan laju inflasi sebesar 5% saja.

Bagi Anda yang berada di dalam situasi krismon itu tentu dapat mengingat hari-hari di mana terjadi rush perbankan. Apapun yang dilakukan bank, termasuk memajang tumpukan uang kas di meja CS untuk menunjukkan bank dalam kondisi likuid, tidak dipercaya oleh masyarakat waktu itu. Sekarang, kondisinya jauh lebih kondusif. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank dalam negeri kuat. Ini yang harus tetap dijaga.



Justifikasi Pelambatan?

Kalau dikaji secara lebih detail maka, bagaimanapun bisa jadi ada ruang justifikasi atas pelambatan ekonomi dalam negeri hari ini. Pertumbuhan ekspor yang lemah -walaupun rupiah sedang terdepresiasi- sebagian disebabkan juga oleh penurunan permintaan ekspor akibat pertumbuhan ekonomi global yang melambat, termasuk pada negara-negara tujuan ekspor utama kita. IMF belum lama ini telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia untuk tahun 2015, dari 3,9% menjadi 3,6%.

China yang adalah pasar ekspor utama kita mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi menjadi 7% yoy di kuartal 1 tahun 2015, dari kuartal sebelumnya yang 7,3%. Ini pertumbuhan ekonomi China yang terendah dalam enam tahun terakhir dan kemungkinan masih akan berlanjut. China dikabarkan akan memangkas permintaan order CPO dari Indonesia tahun ini sebesar 60%. Hal yang sama, pelambatan pertumbuhan terjadi di negeri pasar ekspor kita seperti di Jepang dan Eropa.

Dominasi ekspor kita yang di produk komoditas membuat depresiasi rupiah tidak banyak menolong kinerja ekspor karena komoditas dunia juga sedang merosot harganya. Komoditas perkebunan, mineral, pangan hampir semuanya turun harganya. Harga komoditas pangan dan sebagian mineral berada di level lima tahun terendahnya saat ini. Dampaknya, ini telah turut memukul kinerja ekspor Indonesia.

Mengenai pelemahan rupiah, agaknya sudah banyak yang menyadari bahwa sebagian besar ini disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu penguatan mata uang dollar secara global menjelang the Fed akan menaikkan suku bunganya yang diperkirakan akan dilaksanakan pada semester dua tahun 2015 ini. Kalau rupiah telah tergerus 6% (year to date), maka euro juga pernah anjlok kalah sekitar 12% (ytd) terhadap dollar pada tahun ini.

Bisnis properti dikabarkan juga sedang lesu, baik transaksi jual belinya, pembangunan konstruksinya, maupun harga saham industrinya. Hal ini memang dapat mencerminkan kondisi lambatnya ekonomi karena properti sangat terkait dengan siklus ekonomi; istilahnya pro-cycle. Namun demikian, ini bisa juga dianggap sebagai koreksi sehat atas periode property booming sebelumnya, sampai BI kuatirkan akan berpotensi bubbling, pada sekitar tahun 2010-2013.



Daya Tahan Ekonomi

Sekarang, ketimbang diskusi debat antara resesi akan, sudah, atau belum terjadi, yang lebih penting adalah bagaimana menghindari jerat resesi ekonomi yang bisa datang. Bagaimana memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia? Apakah kiranya penangkal atas hantu resesi? Apakah ada potensi dan peluang saat ini untuk menghindari risiko? Jawabnya: ya ada. Ekonomi sektor riil di Indonesia harus benar bergerak cepat untuk memberikan multiplier effect dalam pergerakan pertumbuhan ekonomi, sehingga dengan demikian terhindar dari ancaman resesi.

Sejumlah hambatan pembangunan ekonomi yang selama ini menghadang harus segera diatasi, dan kelihatannya sedang diupayakan untuk diatasi oleh Pemerintah. Ada anggaran belanja infrastruktur Rp290 triliun dalam APBNP 2015 sekarang yang merupakan jumlah yang sangat memadai untuk mendorong stimulasi ekonomi dan bisnis pada sektor riil. Pembangunan infrastruktur fisik tentunya akan dapat membuka lapangan kerja yang lebih luas, meningkatkan daya beli, serta pada gilirannya mendorong tingkat konsumsi masyarakat.

Hambatan transportasi dan komunikasi harus ditembus pada negara kita yang besar, luas dan berpencar dalam kepulauan ini. Untuk itu, peresmian baru-baru ini (Juni 2015) atas tol terpanjang di Indonesia, Tol Cipali (Cikopo Palimanan), sebagai bagian dari Jalan Tol Trans Jawa layak diapresiasi. Tol Trans Jawa sendiri ditargetkan dapat selesai di tahun 2018, yang dipercaya akan dapat mempercepat arus dinamika ekonomi sepulau Jawa dan sekitarnya. April yang lalu pembangunan Trans Sumatera resmi dimulai, dan ditargetkan selesai di tahun 2020. Sedang akan dibangun juga proyek  Trans Sulawesi, Trans Kalimantan, serta Trans Papua yang dapat menghubungkan titik-titik pusat ekonomi strategis di antara pulau-pulau besar itu.

Aspek kendala infrastruktur lainnya seperti sumberdaya energi kelistrikan juga kelihatannya sedang terus dibenahi. Kabarnya banyak investor dalam negeri dan luar negeri tertarik dalam investasi kelistrikan ini sejalan dengan program Pemerintah untuk meningkatkan elektrifikasi negeri ini sampai mencapai 100% pada tahun 2019, lebih cepat dari target sebelumnya yang dipasang di tahun 2024.

Koneksi terhubung untuk era ini bukan hanya secara fisik melalui jaringan transportasi darat, laut dan udara, tetapi juga via komunikasi digital. Indonesia kini memiliki RPI (Rencana Pitalebar Indonesia), dimana ditargetkan akan sebanyak 135 kota dan kabupaten sudah dapat terkoneksi pada tahun 2019. Presiden Joko Widodo sendiri telah meresmikan di antaranya proyek Sulawesi, Maluku, Papua Cable System (SMPCS), di Manokwari pada bulan Mei yang lalu. Ini berpeluang mendongkrak sektor e-commerce seiring dengan akan tuntasnya infrastruktur pitalebar di seantero Indonesia.

Terkait dengan kinerja ekspor, kita terhambat karena terbatasnya target market negara-negara tujuan ekspor yang juga saat ini sedang dalam tekanan pelambatan pertumbuhan ekonomi. Untuk itu program “diversifikasi ekspor” harus dikedepankan. Kawasan yang dapat menjadi tujuan diversifikasi ekspor adalah negara-negara di Asia, Afrika, Amerika Latin, serta Australia-Oceania. Kementerian Perdagangan nampaknya sedang berusaha mengembangkan kerjasama dengan negara-negara mitra diversifikasi ekspor itu, seperti dengan Korea Selatan yang belum lama ini diadakan workshop bersama. Basis kerjasama seperti ini yang harus dikembangkan. Bukankah juga sekarang baru dibentuk Asia Africa Business Council (AABC), hasil dari event peringatan KAA ke-60 tahun di Jakarta pada April belum lama lalu? (vibiznews.com, 22-April-2015). Ini dapat direalisasikan segera kerjasama konkritnya. Jangan tinggal wacana kembali.

Apalagi yang dapat digencarkan karena potensi besar yang kita miliki? Masih banyak, sebenarnya. Lihat saja sektor pariwisata, lalu juga sektor usaha kecil dan mikro (UKM). Indonesia memiliki potensi yang sangat besar di sektor-sektor ini. Sangat potensial! Untuk sektor pariwisata, kita sama sekali tidak kekurangan obyek wisata yang mengagumkan dunia. Tantangannya hari ini adalah bagaimana meningkatkan kelengkapan dan kualitas infrastruktur pendukung obyek wisata. Hal tersebut memerlukan terbangunnya koordinasi yang baik antara instansi Pemerintah terkait serta antara swasta dengan pihak Pemerintah. Potensi wisatawan domestik saja masih sangat mungkin dikembangkan. Tahun ini ditargetkan Pemerintah akan tercapai 254 juta perjalanan wisata dalam negeri serta 10 juta kunjungan wisman. Kalau banyak negara lain bisa kaya devisa dari pariwisatanya, negeri kita dan daerah-daerah kita sangat mungkin disejahterakan dari capaian industri pariwisata.

Untuk sektor UKM ada lebih dari 56 juta unit usahanya yang dapat berkembang dan bertumbuh pada perekonomian domestik kita. Ada banyak bank dan lembaga keuangan yang siap mendukung pengembangan dan pembiayaannya. Sejumlah bank sekarang ini sedang gencar membuka unit bisnis mikro karena melihat potensi besar yang kurang digarap ini. Kalau ini semua bergerak, dapat dibayangkan kekuatan daya tahan ekonomi dalam negeri kita. Dapat dimimpikan suatu negeri yang tahan terhadap tekanan dan ancaman serangan resesi dunia.

Baru saja Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik, dilansir sejumlah media (16/6/2015) mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan. Pihak kedutaan menyebut Indonesia akan mendominasi perekonomian dunia di abad ke-21 bersama dengan China dan India, demikian menurutnya hasil penelitian di pemerintahnya. Menarik, bukan?

Di luar sana memang ada ancaman resesi yang menghantui perekonomian kita. Tetapi di dalam sini, ada potensi raksasa besar ekonomi yang dapat dibangkitkan dan kuat untuk menghadapi resesi. Anda percaya? Mari bersama membangun ekonomi negeri kita!

By Alfred Pakasi ,

CEO Vibiz Counsulting
Vibiz Consulting Group