Pages

Kamis, 25 Oktober 2012

Penjualan Kondominium Meningkat di Kuartal II-2012

(Vibiznews-Property) Kian maraknya pembangunan kondominium di Jakarta ternyata tidak membuat harganya menjadi stabil. Sebaliknya, yang terjadi harga kondominium justru semakin meningkat. Tak heran harga kondominium di Indonesia menjadi produk properti termahal no dua didunia. Menurut Senior Associate Director Knight Frank Indonesia, Fakky Ismail Hidayat, baru-baru ini kepada media, alasan hal ini bisa terjadi karena adanya keterbatasan lahan. Minimnya lahan merupakan faktor utama meningkatnya harga kondominium di Jakarta. Faktor lain karena ditunjang dengan rendahnya suku bunga perbankan.
Hasil riset yang diperoleh Cushman & Wakefield Indonesia : hingga akhir kuartal II 2012 lalu, sebanyak 3.688 unit kondominium selesai dibangun. Hal ini menambah pasokan komulatif kondominium menjadi 93.846 unit, atau 4,5% lebih tinggi jika dibandingkan dengan kuartal lalu. Sampai tahun 2012, tingkat penjualan kondominium di Jakarta dan sekitarnya mencapai 95,3%, naik 0,4 % dan 0,2 %. Selain itu tingkat okupansi tercatat pada angka 66,2 %Â naik 1,8 % dari kuartal sebelumnya.
Sementara itu, tingkat penjualan pre-sales mencapai angka 61,6% dengan sisa 22.274 unit yang belum terjual. Angka tersebut menunjukkan peningkatan 2,7% dari kuartal sebelumnya atau naik 2,5% dari tahun 2011. Aktivitas pre-sales dari proyek mendatang didominasi oleh proyek-proyek kelas menengah, atau sekitar 65,52% dari total transaksi.
Hal ini juga di dukung dengan berbagai fasilitas unggul yang dimiliki, membuat kondominium semakin dilirik dan peminatnya semakin banyak. Bahkan, di akhir kuartal lalu, terdapat total 102 proyek mendatang yang bersaing di pasar kondominium namun tidak termasuk dengan proyek rusunami dengan total keseluruhan 47.378 unit.
Disamping itu terdapat juga 13 tambahan proyek sepanjang kuartal ke II-2012, dengan total 6.229 unit, yang terdiri dari proyek menengah ke bawah sampai dengan atas. Sebagian dari rencana pembangunan merupakan bagian dari mega proyek multiguna. Menurut Arief Rahardjo,Senior Associate Director Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia, sebanyak 13 proyek baru diluncurkan dan akan selesai secara bertahap hingga 2015.
Proyek-proyek tersebut adalah:
1. Green Central (Tower Cerberra)
2. St Moritz (Tower New Presidential Suite)
3. Grand Center Point (Tower D)
4. U Residence (Tower 2)
5. Green Bay Seaview Tower L
6. Sherwood Residence (Tower Regent)
7. Scientia Residence (Tower C & D)
8. Apartment Providence Park
9. The Gianetti Apartment
10. Satu 8 Residence
11. Northland Ancol Residence
12. SOHO @ Podomoro City
13. OceanÂ
Kenaikan harga kondominium terbesar terjadi pada kelas atas tumbuh sebesar Rp 25 juta per meter persegi (m2), kelas menengah naik Rp 13 juta per m2, dan kondominium kelas menengah ke bawah naik Rp 8 juta per m2. Permintaan hunian vertikal masih tetap tumbuh pesat selama periode 2012-2013, sehingga mendorong maraknya pasokan dari pengembang. Hingga 2015, ada pasokan sekitar 27.400 unit kondominium baru yang masih dalam perencanaan dan telah terjual 63%.
Sementara itu, Senior Associate Director PT Leads Property Service Indonesia, Evi Susanti menyampaikan akhir-akhir ini pada salah satu media, investor dapat memanfaatkan kondisi ekonomi yang bertumbuh untuk berinvestasi di kondominium. Hal tersebut dikarenakan risiko berinvestasi di sektor ini berupa pembatalan pembangunannya cukup kecil. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari, tetapi nilai kondominium itu tidak pernah jatuh. Penentuan konsep bangunan sangat diperhatikan pengembang saat membangun. Hal ini sangat penting sekali sebagai salah satu kunci untuk menarik minat pembeli. Perbedaan harga saat proyek pertama kali ditawarkan hingga selesai dibangun cukup tinggi. Keuntungan yang didapat bisa mencapai 80% selama dua tahun proses pembangunan. Membeli dengan kredit pun masih bisa untung sebesar 20-25%.
Faktor melonjaknya kelas menengah yang menyebabkan beralihnya gaya hidup, memicu pesatnya pasar kondominium di Indonesia, khususnya di Jakarta. Dengan penghasilan yang lebih besar, otomatis selera seseorang juga akan meningkat. Penjualan kondominium kebanyakan berasal dari kalangan eksekutif muda yang sebagian besar berkantor dikawasan pusat bisnis. Harga jual kondominium di wilayah CBD pada akhir Juni 2012 mencapai Rp 23.106.618 per m2, naik 12,%.
Sesuai data yang didapat dari Research Colliers International, metode hard cash installment mencapai 40%-50% dari keseluruhan pembeli, yang berkisar dari segmen bawah hingga atas. Sedangkan, para pembeli dengan metode hard cash (tunai langsung) berkisar antara 10%-30% dan yang membeli melalui kredit kepemilikan apartemen (KPA) hanya berjumlah 10%-20%. Selain dilihat dari banyaknya pasokan, pertumbuhan positif pasar kondominium di kawasan luar CBD juga terlihat dari meningkatnya tingkat hunian. Di mana tingkat hunian kondominium sewa mengalami lonjakan hingga 6,4%,yaitu dari 66,5% di kuartal I menjadi 72,9% pada kuartal II tahun ini. Terlihat hingga kuartal II ini metode cash installement (pembayaran tunai bertahap) masih sangat mendominasi. Hal ini disebabkan cara pembayaran tersebut dinilai lebih sederhana dan efektif. Berdasarkan analisa yang didapat dalam dua sampai tiga tahun ke depan perkembangan pasar kondominium akan semakin positif.

(Pestaria Siregar/PS/vbn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar