(Vibiznews-Property) Kian maraknya pembangunan kondominium di
Jakarta ternyata tidak membuat harganya menjadi stabil. Sebaliknya,
yang terjadi harga kondominium justru semakin meningkat. Tak heran harga
kondominium di Indonesia menjadi produk properti termahal no dua
didunia. Menurut Senior Associate Director Knight Frank Indonesia, Fakky
Ismail Hidayat, baru-baru ini kepada media, alasan hal ini bisa terjadi
karena adanya keterbatasan lahan. Minimnya lahan merupakan faktor utama
meningkatnya harga kondominium di Jakarta. Faktor lain karena ditunjang
dengan rendahnya suku bunga perbankan.
Hasil riset yang diperoleh
Cushman & Wakefield Indonesia : hingga akhir kuartal II 2012 lalu,
sebanyak 3.688 unit kondominium selesai dibangun. Hal ini menambah
pasokan komulatif kondominium menjadi 93.846 unit, atau 4,5% lebih
tinggi jika dibandingkan dengan kuartal lalu. Sampai tahun 2012, tingkat
penjualan kondominium di Jakarta dan sekitarnya mencapai 95,3%, naik
0,4 % dan 0,2 %. Selain itu tingkat okupansi tercatat pada angka 66,2 %Â
naik 1,8 % dari kuartal sebelumnya.
Sementara itu, tingkat
penjualan pre-sales mencapai angka 61,6% dengan sisa 22.274 unit yang
belum terjual. Angka tersebut menunjukkan peningkatan 2,7% dari kuartal
sebelumnya atau naik 2,5% dari tahun 2011. Aktivitas pre-sales dari
proyek mendatang didominasi oleh proyek-proyek kelas menengah, atau
sekitar 65,52% dari total transaksi.
Hal ini juga di dukung dengan
berbagai fasilitas unggul yang dimiliki, membuat kondominium semakin
dilirik dan peminatnya semakin banyak. Bahkan, di akhir kuartal lalu,
terdapat total 102 proyek mendatang yang bersaing di pasar kondominium
namun tidak termasuk dengan proyek rusunami dengan total keseluruhan
47.378 unit.
Disamping
itu terdapat juga 13 tambahan proyek sepanjang kuartal ke II-2012,
dengan total 6.229 unit, yang terdiri dari proyek menengah ke bawah
sampai dengan atas. Sebagian dari rencana pembangunan merupakan bagian
dari mega proyek multiguna. Menurut Arief Rahardjo,Senior Associate
Director Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia,
sebanyak 13 proyek baru diluncurkan dan akan selesai secara bertahap
hingga 2015.
Proyek-proyek tersebut adalah:
1. Green Central (Tower Cerberra)
2. St Moritz (Tower New Presidential Suite)
3. Grand Center Point (Tower D)
4. U Residence (Tower 2)
5. Green Bay Seaview Tower L
6. Sherwood Residence (Tower Regent)
7. Scientia Residence (Tower C & D)
8. Apartment Providence Park
9. The Gianetti Apartment
10. Satu 8 Residence
11. Northland Ancol Residence
12. SOHO @ Podomoro City
13. OceanÂ
Kenaikan
harga kondominium terbesar terjadi pada kelas atas tumbuh sebesar Rp 25
juta per meter persegi (m2), kelas menengah naik Rp 13 juta per m2, dan
kondominium kelas menengah ke bawah naik Rp 8 juta per m2. Permintaan
hunian vertikal masih tetap tumbuh pesat selama periode 2012-2013,
sehingga mendorong maraknya pasokan dari pengembang. Hingga 2015, ada
pasokan sekitar 27.400 unit kondominium baru yang masih dalam
perencanaan dan telah terjual 63%.
Sementara itu, Senior Associate
Director PT Leads Property Service Indonesia, Evi Susanti menyampaikan
akhir-akhir ini pada salah satu media, investor dapat memanfaatkan
kondisi ekonomi yang bertumbuh untuk berinvestasi di kondominium. Hal
tersebut dikarenakan risiko berinvestasi di sektor ini berupa pembatalan
pembangunannya cukup kecil. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari, tetapi
nilai kondominium itu tidak pernah jatuh. Penentuan konsep bangunan
sangat diperhatikan pengembang saat membangun. Hal ini sangat penting
sekali sebagai salah satu kunci untuk menarik minat pembeli. Perbedaan
harga saat proyek pertama kali ditawarkan hingga selesai dibangun cukup
tinggi. Keuntungan yang didapat bisa mencapai 80% selama dua tahun
proses pembangunan. Membeli dengan kredit pun masih bisa untung sebesar
20-25%.
Faktor melonjaknya kelas menengah yang menyebabkan
beralihnya gaya hidup, memicu pesatnya pasar kondominium di Indonesia,
khususnya di Jakarta. Dengan penghasilan yang lebih besar, otomatis
selera seseorang juga akan meningkat. Penjualan kondominium kebanyakan
berasal dari kalangan eksekutif muda yang sebagian besar berkantor
dikawasan pusat bisnis. Harga jual kondominium di wilayah CBD pada akhir
Juni 2012 mencapai Rp 23.106.618 per m2, naik 12,%.
Sesuai data
yang didapat dari Research Colliers International, metode hard cash
installment mencapai 40%-50% dari keseluruhan pembeli, yang berkisar
dari segmen bawah hingga atas. Sedangkan, para pembeli dengan metode
hard cash (tunai langsung) berkisar antara 10%-30% dan yang membeli
melalui kredit kepemilikan apartemen (KPA) hanya berjumlah 10%-20%.
Selain dilihat dari banyaknya pasokan, pertumbuhan positif pasar
kondominium di kawasan luar CBD juga terlihat dari meningkatnya tingkat
hunian. Di mana tingkat hunian kondominium sewa mengalami lonjakan
hingga 6,4%,yaitu dari 66,5% di kuartal I menjadi 72,9% pada kuartal II
tahun ini. Terlihat hingga kuartal II ini metode cash installement
(pembayaran tunai bertahap) masih sangat mendominasi. Hal ini disebabkan
cara pembayaran tersebut dinilai lebih sederhana dan efektif.
Berdasarkan analisa yang didapat dalam dua sampai tiga tahun ke depan
perkembangan pasar kondominium akan semakin positif.
(Pestaria Siregar/PS/vbn)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar