(
Vibiznews – Business) – Siapa yang akan menjadi presiden AS untuk periode 2012 – 2016 mendatang merupakan fokus bagi para investor saat ini (06/11). Nanti malam warga AS akan memilih siapa yang akan menjadi pemimpin negara mereka untuk 4 tahun ke depan. Masing-masing kandidat mengklaim bahwa program mereka akan mampu mengatasi kondisi ekonomi AS yang sedang terpuruk saat ini. Benarkah demikian?
Tampaknya klaim-klaim tersebut terlalu berlebihan dan sulit dicapai. Para ekonom merasa skeptis bahwa Obama maupun Romney akan mampu melakukan yang lebih signifikan untuk mendorong ekonomi AS dengan signifikan. Diprediksi bahwa di tangan siapapun, AS masih akan menghadapi pertumbuhan ekonomi yang lambat.
Kombinasi antara pengetatan anggaran dan kondisi ekonomi global yang lesu mengakibatkan pemulihan ekonomi AS sulit untuk berjalan lebih cepat dari saat ini. Tingkat pengangguran diperkirakan hanya akan mengalami penurunan secara berkala, tidak mungkin dapat dituntaskan dengan secepat kilat.
Data sektor tenaga kerja dan perumahan telah menjadi dua hal yang paling ditunggu-tunggu oleh para investor dan pemilih. Dua indikator ini dianggap paling mewakili progress pertumbuhan ekonomi di AS. Kedua data tersebut sudah menunjukkan peningkatan yang lumayan, meskipun belum terlalu signifikan sampai dapat menyingkapkan keyakinan yang kuat di antara warga negara AS.
Ketidakpastian Politik Hambat Program Pemulihan Ekonomi
Ketidakpastian politik di Washington, terutama sekali yang berkenaan dengan “fiscal cliff” atau kombinasi kebijakan kenaikan pajak dan pemotongan anggaran yang akan dilakukan tahun 2013 telah menjadi penghalang bagi pertumbuhan ekonomi yang diharapkan.
Pada kuartal ketiga lalu pertumbuhan ekonomi mencapai angka 2% (y/y). Akan tetapi diperkirakan untuk pertumbuhan di tahun 2012 ini di AS tidak akan melebihi angka 1.3%, yang merupakan area bahaya resesi.
Memang kata resesi tidak menjadi favorit para analis untuk digunakan menggambarkan atau memprediksi arah ekonomi AS. Akan tetapi ekonomi paling mendekati kondisi pertumbuhan yang stagnan atau nol persen.
Meskipun untuk saat ini arah pergerakan ekonomi AS masih muram, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa pertumbuhan nol persen merupakan titik nadir yang dari sana progress pemulihan akan berjalan dengan berkesinambungan.
Analis memprediksi bahwa pada kuartal ketiga tahun 2013 mendatang, ekonomi AS sudah lebih kuat. Pertumbuhan ekonomi di kuartal keempat 2013 diperkirakan dapat mencapai 4%. Untuk kuartal pertama, kedua dan ketiga 2013 ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi sebesar -0.5%, 0% dan 1%.
Hasil Pemilu Tidak Akan Pengaruhi Bursa Saham
Mnjelang pemilu nanti malam, Wall Street dini hari tadi ditutup naik tipis dengan volume perdagangan yang lebih kecil dari biasanya. Para investor masih menunggu hasil pemilu di AS sebelum mengambil posisi, akan tetapi Jim Cramer dari CNBC menyatakan bahwa sebenarnya investor saham tidak akan terlalu mempedulikan hasil dari pemilu di AS.
Cramer berargumen bahwa investor saham lebih melihat kinerja saham individu dibandingkan dengan politik dalam memutuskan transaksi. Bagi Cramer yang terpenting bagi investor saham adalah manajemen perusahaan dan model bisnis, bukan politik.
Bagaimana menurut Anda?
(Ika Akbarwati/IA/vbn)

Vibiznews – Business) – Siapa yang akan menjadi presiden AS untuk periode 2012 – 2016 mendatang merupakan fokus bagi para investor saat ini (06/11). Nanti malam warga AS akan memilih siapa yang akan menjadi pemimpin negara mereka untuk 4 tahun ke depan. Masing-masing kandidat mengklaim bahwa program mereka akan mampu mengatasi kondisi ekonomi AS yang sedang terpuruk saat ini. Benarkah demikian?
Tampaknya klaim-klaim tersebut terlalu berlebihan dan sulit dicapai. Para ekonom merasa skeptis bahwa Obama maupun Romney akan mampu melakukan yang lebih signifikan untuk mendorong ekonomi AS dengan signifikan. Diprediksi bahwa di tangan siapapun, AS masih akan menghadapi pertumbuhan ekonomi yang lambat.
Kombinasi antara pengetatan anggaran dan kondisi ekonomi global yang lesu mengakibatkan pemulihan ekonomi AS sulit untuk berjalan lebih cepat dari saat ini. Tingkat pengangguran diperkirakan hanya akan mengalami penurunan secara berkala, tidak mungkin dapat dituntaskan dengan secepat kilat.
Data sektor tenaga kerja dan perumahan telah menjadi dua hal yang paling ditunggu-tunggu oleh para investor dan pemilih. Dua indikator ini dianggap paling mewakili progress pertumbuhan ekonomi di AS. Kedua data tersebut sudah menunjukkan peningkatan yang lumayan, meskipun belum terlalu signifikan sampai dapat menyingkapkan keyakinan yang kuat di antara warga negara AS.
Ketidakpastian Politik Hambat Program Pemulihan Ekonomi
Ketidakpastian politik di Washington, terutama sekali yang berkenaan dengan “fiscal cliff” atau kombinasi kebijakan kenaikan pajak dan pemotongan anggaran yang akan dilakukan tahun 2013 telah menjadi penghalang bagi pertumbuhan ekonomi yang diharapkan.
Pada kuartal ketiga lalu pertumbuhan ekonomi mencapai angka 2% (y/y). Akan tetapi diperkirakan untuk pertumbuhan di tahun 2012 ini di AS tidak akan melebihi angka 1.3%, yang merupakan area bahaya resesi.
Memang kata resesi tidak menjadi favorit para analis untuk digunakan menggambarkan atau memprediksi arah ekonomi AS. Akan tetapi ekonomi paling mendekati kondisi pertumbuhan yang stagnan atau nol persen.
Meskipun untuk saat ini arah pergerakan ekonomi AS masih muram, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa pertumbuhan nol persen merupakan titik nadir yang dari sana progress pemulihan akan berjalan dengan berkesinambungan.
Analis memprediksi bahwa pada kuartal ketiga tahun 2013 mendatang, ekonomi AS sudah lebih kuat. Pertumbuhan ekonomi di kuartal keempat 2013 diperkirakan dapat mencapai 4%. Untuk kuartal pertama, kedua dan ketiga 2013 ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi sebesar -0.5%, 0% dan 1%.
Hasil Pemilu Tidak Akan Pengaruhi Bursa Saham
Mnjelang pemilu nanti malam, Wall Street dini hari tadi ditutup naik tipis dengan volume perdagangan yang lebih kecil dari biasanya. Para investor masih menunggu hasil pemilu di AS sebelum mengambil posisi, akan tetapi Jim Cramer dari CNBC menyatakan bahwa sebenarnya investor saham tidak akan terlalu mempedulikan hasil dari pemilu di AS.
Cramer berargumen bahwa investor saham lebih melihat kinerja saham individu dibandingkan dengan politik dalam memutuskan transaksi. Bagi Cramer yang terpenting bagi investor saham adalah manajemen perusahaan dan model bisnis, bukan politik.
Bagaimana menurut Anda?
(Ika Akbarwati/IA/vbn)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar