Dalam sebuah paparan tinjauan ekonomi baru-baru ini ada disebutkan bahwa perekonomian Indonesia saat ini sedang menuju resesi, bahkan dikategorikan sudah di zona resesi. Martin Panggabean, ekonom senior Indonesia Green Investment Collectives (IGIco), menyebutkan bahwa dilihat dari berbagai leading indicator economy, Indonesia kini bisa dikategorikan dalam tren menuju resesi. Tinjauan tersebut kemudian cukup ramai dikutip berbagai media masa (16/6/2015).
Indikasi dari kondisi menuju resesi ini, menurut Martin, tercermin dimana dalam satu tahun terakhir suku bunga pinjaman relatif naik, nilai tukar anjlok, bursa saham turun, pertumbuhan kredit melemah, begitu pun harga komoditas melorot.
Penggunaan istilah “resesi” di sini sebenarnya agak mengejutkan mengingat perekonomian Indonesia saat ini masih tetap bertumbuh positif, walaupun dalam tren yang melambat. Sementara resesi itu biasanya didefinisikan bila terdapat kondisi pertumbuhan ekonomi negatif suatu Negara dalam dua kuartal berturut-turut. Namun Martin menggambarkan kondisi tren resesi ini dengan mengambil sejumlah data indikator ekonomi.
Kita tahu memang bahwa dalam kurun waktu hampir lima tahun terakhir ini pertumbuhan ekonomi Indonesia terus merosot. Di akhir 2010 laju pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 6,81%, dan selanjutnya dalam kurun waktu dua tahun berikutnya Indonesia sempat disebutkan mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di dunia setelah China. Sekarang, sebutan itu tidak relevan lagi. Jadi, melihat tren pelambatan ekonomi seperti itu, apakah benar bahwa ekonomi kita sedang melaju menuju resesi? Atau, malah sudah di dalam zona tersebut? Suatu gambaran yang dapat mencemaskan masyarakat akan terulangnya gejolak “krismon” pada 17 tahun lalu, apalagi rupiah sudah berada di area 17 tahun terendahnya juga.
Begitu negatifkah ekonomi Indonesia? Sepertinya tidak juga. Mari kita kaji secara lebih mendalam.
Menengok Resesi 1998
Paparan di atas mungkin pantas untuk ditelaah dan menjadi suatu peringatan bagi para pelaku ekonomi dan bisnis. Namun demikian, menurut penulis, istilah “resesi” sebaiknya dikembalikan kepada definisi awalnya yang sudah dipakai secara global, yaitu pertumbuhan ekonomi yang negatif selama paling kurang dua kuartal berturut-turut. Bila ini yang dipakai, maka analisis resesi dari periode ke periode menjadi konsisten dan dapat diperbandingkan.
Kita tentunya tidak ingin krisis ekonomi 1998 terulang lagi. Kondisi ekonomi saat itu memang layak disebut “resesi”. Pertumbuhan ekonomi di tahun 1998 itu adalah -13,12%! Anjlok sangat tajam dari pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya: yaitu 8,22% (1995); 7,82% (1996); dan 4,70% (1997) saat ekonomi mulai terhantam. Berikutnya di tahun 1999 ekonomi berusaha cepat bangkit di angka 0,84%. Pemulihan ini relatif cepat dibandingkan dengan resesi akibat kasus subprime mortgage di Amerika (2008) yang menekan sampai sekitar lima tahunan.
Perbedaan kondisi mencolok saat ini dengan resesi 1998 bisa terlihat dari, misalnya waktu itu rupiah pernah tergerus nilainya sampai 70% hanya dalam satu bulan saja, yaitu pada Januari 1998, dari Rp4.000 terjun bebas menjadi Rp13.000 per 1 USD. Sementara saat ini, dari awal tahun nilai rupiah tergerus sekitar 6% dalam periode hampir enam bulan, walaupun itu sudah termasuk yang terparah dibandingkan depresiasi mata uang negara-negara tetangga Asia lainnya. Laju inflasi di tahun 1998 waktu itu adalah 77,6%, sementara untuk tahun ini Pemerintah menargetkan laju inflasi sebesar 5% saja.
Bagi Anda yang berada di dalam situasi krismon itu tentu dapat mengingat hari-hari di mana terjadi rush perbankan. Apapun yang dilakukan bank, termasuk memajang tumpukan uang kas di meja CS untuk menunjukkan bank dalam kondisi likuid, tidak dipercaya oleh masyarakat waktu itu. Sekarang, kondisinya jauh lebih kondusif. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank dalam negeri kuat. Ini yang harus tetap dijaga.
Justifikasi Pelambatan?
Kalau dikaji secara lebih detail maka, bagaimanapun bisa jadi ada ruang justifikasi atas pelambatan ekonomi dalam negeri hari ini. Pertumbuhan ekspor yang lemah -walaupun rupiah sedang terdepresiasi- sebagian disebabkan juga oleh penurunan permintaan ekspor akibat pertumbuhan ekonomi global yang melambat, termasuk pada negara-negara tujuan ekspor utama kita. IMF belum lama ini telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia untuk tahun 2015, dari 3,9% menjadi 3,6%.
China yang adalah pasar ekspor utama kita mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi menjadi 7% yoy di kuartal 1 tahun 2015, dari kuartal sebelumnya yang 7,3%. Ini pertumbuhan ekonomi China yang terendah dalam enam tahun terakhir dan kemungkinan masih akan berlanjut. China dikabarkan akan memangkas permintaan order CPO dari Indonesia tahun ini sebesar 60%. Hal yang sama, pelambatan pertumbuhan terjadi di negeri pasar ekspor kita seperti di Jepang dan Eropa.
Dominasi ekspor kita yang di produk komoditas membuat depresiasi rupiah tidak banyak menolong kinerja ekspor karena komoditas dunia juga sedang merosot harganya. Komoditas perkebunan, mineral, pangan hampir semuanya turun harganya. Harga komoditas pangan dan sebagian mineral berada di level lima tahun terendahnya saat ini. Dampaknya, ini telah turut memukul kinerja ekspor Indonesia.
Mengenai pelemahan rupiah, agaknya sudah banyak yang menyadari bahwa sebagian besar ini disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu penguatan mata uang dollar secara global menjelang the Fed akan menaikkan suku bunganya yang diperkirakan akan dilaksanakan pada semester dua tahun 2015 ini. Kalau rupiah telah tergerus 6% (year to date), maka euro juga pernah anjlok kalah sekitar 12% (ytd) terhadap dollar pada tahun ini.
Bisnis properti dikabarkan juga sedang lesu, baik transaksi jual belinya, pembangunan konstruksinya, maupun harga saham industrinya. Hal ini memang dapat mencerminkan kondisi lambatnya ekonomi karena properti sangat terkait dengan siklus ekonomi; istilahnya pro-cycle. Namun demikian, ini bisa juga dianggap sebagai koreksi sehat atas periode property booming sebelumnya, sampai BI kuatirkan akan berpotensi bubbling, pada sekitar tahun 2010-2013.
Daya Tahan Ekonomi
Sekarang, ketimbang diskusi debat antara resesi akan, sudah, atau belum terjadi, yang lebih penting adalah bagaimana menghindari jerat resesi ekonomi yang bisa datang. Bagaimana memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia? Apakah kiranya penangkal atas hantu resesi? Apakah ada potensi dan peluang saat ini untuk menghindari risiko? Jawabnya: ya ada. Ekonomi sektor riil di Indonesia harus benar bergerak cepat untuk memberikan multiplier effect dalam pergerakan pertumbuhan ekonomi, sehingga dengan demikian terhindar dari ancaman resesi.
Sejumlah hambatan pembangunan ekonomi yang selama ini menghadang harus segera diatasi, dan kelihatannya sedang diupayakan untuk diatasi oleh Pemerintah. Ada anggaran belanja infrastruktur Rp290 triliun dalam APBNP 2015 sekarang yang merupakan jumlah yang sangat memadai untuk mendorong stimulasi ekonomi dan bisnis pada sektor riil. Pembangunan infrastruktur fisik tentunya akan dapat membuka lapangan kerja yang lebih luas, meningkatkan daya beli, serta pada gilirannya mendorong tingkat konsumsi masyarakat.
Hambatan transportasi dan komunikasi harus ditembus pada negara kita yang besar, luas dan berpencar dalam kepulauan ini. Untuk itu, peresmian baru-baru ini (Juni 2015) atas tol terpanjang di Indonesia, Tol Cipali (Cikopo Palimanan), sebagai bagian dari Jalan Tol Trans Jawa layak diapresiasi. Tol Trans Jawa sendiri ditargetkan dapat selesai di tahun 2018, yang dipercaya akan dapat mempercepat arus dinamika ekonomi sepulau Jawa dan sekitarnya. April yang lalu pembangunan Trans Sumatera resmi dimulai, dan ditargetkan selesai di tahun 2020. Sedang akan dibangun juga proyek Trans Sulawesi, Trans Kalimantan, serta Trans Papua yang dapat menghubungkan titik-titik pusat ekonomi strategis di antara pulau-pulau besar itu.
Aspek kendala infrastruktur lainnya seperti sumberdaya energi kelistrikan juga kelihatannya sedang terus dibenahi. Kabarnya banyak investor dalam negeri dan luar negeri tertarik dalam investasi kelistrikan ini sejalan dengan program Pemerintah untuk meningkatkan elektrifikasi negeri ini sampai mencapai 100% pada tahun 2019, lebih cepat dari target sebelumnya yang dipasang di tahun 2024.
Koneksi terhubung untuk era ini bukan hanya secara fisik melalui jaringan transportasi darat, laut dan udara, tetapi juga via komunikasi digital. Indonesia kini memiliki RPI (Rencana Pitalebar Indonesia), dimana ditargetkan akan sebanyak 135 kota dan kabupaten sudah dapat terkoneksi pada tahun 2019. Presiden Joko Widodo sendiri telah meresmikan di antaranya proyek Sulawesi, Maluku, Papua Cable System (SMPCS), di Manokwari pada bulan Mei yang lalu. Ini berpeluang mendongkrak sektor e-commerce seiring dengan akan tuntasnya infrastruktur pitalebar di seantero Indonesia.
Terkait dengan kinerja ekspor, kita terhambat karena terbatasnya target market negara-negara tujuan ekspor yang juga saat ini sedang dalam tekanan pelambatan pertumbuhan ekonomi. Untuk itu program “diversifikasi ekspor” harus dikedepankan. Kawasan yang dapat menjadi tujuan diversifikasi ekspor adalah negara-negara di Asia, Afrika, Amerika Latin, serta Australia-Oceania. Kementerian Perdagangan nampaknya sedang berusaha mengembangkan kerjasama dengan negara-negara mitra diversifikasi ekspor itu, seperti dengan Korea Selatan yang belum lama ini diadakan workshop bersama. Basis kerjasama seperti ini yang harus dikembangkan. Bukankah juga sekarang baru dibentuk Asia Africa Business Council (AABC), hasil dari event peringatan KAA ke-60 tahun di Jakarta pada April belum lama lalu? (vibiznews.com, 22-April-2015). Ini dapat direalisasikan segera kerjasama konkritnya. Jangan tinggal wacana kembali.
Apalagi yang dapat digencarkan karena potensi besar yang kita miliki? Masih banyak, sebenarnya. Lihat saja sektor pariwisata, lalu juga sektor usaha kecil dan mikro (UKM). Indonesia memiliki potensi yang sangat besar di sektor-sektor ini. Sangat potensial! Untuk sektor pariwisata, kita sama sekali tidak kekurangan obyek wisata yang mengagumkan dunia. Tantangannya hari ini adalah bagaimana meningkatkan kelengkapan dan kualitas infrastruktur pendukung obyek wisata. Hal tersebut memerlukan terbangunnya koordinasi yang baik antara instansi Pemerintah terkait serta antara swasta dengan pihak Pemerintah. Potensi wisatawan domestik saja masih sangat mungkin dikembangkan. Tahun ini ditargetkan Pemerintah akan tercapai 254 juta perjalanan wisata dalam negeri serta 10 juta kunjungan wisman. Kalau banyak negara lain bisa kaya devisa dari pariwisatanya, negeri kita dan daerah-daerah kita sangat mungkin disejahterakan dari capaian industri pariwisata.
Untuk sektor UKM ada lebih dari 56 juta unit usahanya yang dapat berkembang dan bertumbuh pada perekonomian domestik kita. Ada banyak bank dan lembaga keuangan yang siap mendukung pengembangan dan pembiayaannya. Sejumlah bank sekarang ini sedang gencar membuka unit bisnis mikro karena melihat potensi besar yang kurang digarap ini. Kalau ini semua bergerak, dapat dibayangkan kekuatan daya tahan ekonomi dalam negeri kita. Dapat dimimpikan suatu negeri yang tahan terhadap tekanan dan ancaman serangan resesi dunia.
Baru saja Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik, dilansir sejumlah media (16/6/2015) mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan. Pihak kedutaan menyebut Indonesia akan mendominasi perekonomian dunia di abad ke-21 bersama dengan China dan India, demikian menurutnya hasil penelitian di pemerintahnya. Menarik, bukan?
Di luar sana memang ada ancaman resesi yang menghantui perekonomian kita. Tetapi di dalam sini, ada potensi raksasa besar ekonomi yang dapat dibangkitkan dan kuat untuk menghadapi resesi. Anda percaya? Mari bersama membangun ekonomi negeri kita!
By Alfred Pakasi ,
CEO Vibiz Counsulting
Vibiz Consulting Group







Tidak ada komentar:
Posting Komentar