Pages

Senin, 22 Juni 2015

Pengangguran Bertambah, Indonesia Susul Tiongkok dan Korsel


Seperti diketahui, kinerja ekspor yang menurun, dan kondisi perekonomian global yang masih belum menunjukkan ketidakpastian telah berdampak pada perlambatan ekonomi nasional di Triwulan I 2015 dengan menyentuh level terendahnya dalam kurun 6 (enam) tahun terakhir.  Pertumbuhan ekonomi Indonesia di sepanjang Triwulan I-2015 mengalami perlambatan yakni hanya mencapai 4,71%,  dibandingkan periode yang sama tahun 2014. Lemahnya pertumbuhan ekonomi Tanah Air hingga saat ini telah berdampak terhadap kinerja perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Sebagian besar perusahaan di Tanah Air mulai memangkas belanja modalnya dan tak urung juga memangkas jumlah karyawannya dengan alasan efisiensi. Tentu saja hal ini menimbulkan masalah baru lagi bagi Indonesia, yaitu masalah pengangguran. Berdasarkan data historis, pada Feruari 2015 lalu tingkat pengangguran di Indonesia menyentuh angka 5,81 persen atau tercatat sebesar 7,4 juta orang, naik tipis dari Februari 2014 yang tercatat sebesar 5,70 persen.

Fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di negara ini mulai membayangi aktivitas dan perilaku para pelaku bisnis maupun masyarakat. Kebanyakan yang terkena dampak dari lesunya ekonomi Indonesia saat ini adalah kelompok orang-orang muda yang masih minim pengalaman. Berdasarkan data, hingga tahun 2013 lalu tingkat pengangguran kaum muda di Indonesia tercatat lebih dari 20 persen. Masalah pasar tenaga kerja ini semakin buruk juga karena Indonesia adalah salah satu negara yang mengalami bonus demografi, menyusul Tiongkok dan Korea Selatan. Tiongkok pada kuartal pertama tahun ini cetak tingkat pengangguran 4,1% sedang Korsel pada bulan lalu 3,9%.

Sebelumnya banyak ekonom maupun pebisnis yang cukup optimis dengan memasuki masa bonus demografi ini akan membuat produktivitas ekonomi dalam negeri tergenjot. Namun nampaknya hal tersebut tidak akan terjadi jika tidak didukung dengan fundamental ekonomi yang kuat, dalam kondisi lemah seperti ini bonus demografi justru akan menjadi “bencana” bagi perekonomian Indonesia.

Beberapa sektor industri Tanah Air pun ikut tergerus, seperti industri tambang, selain karena adanya larangan ekspor bijih besi yang diberlakukan pemerintah sejak awal tahun lalu, penurunan harga komoditas global juga cukup menekan pergerakan sektor tambang dalam negari. Tidak hanya sektor tambang, sektor industri padat karya seperti tekstil dan manufaktur juga kian tertekan oleh pelemahan rupiah yang telah menyentuh level terendahnya dalam 17 tahun terakhir, sehingga mengakibatkan pembelian bahan baku impor menjadi semakin mahal.

Dalam siklus selanjutnya, tingginya tingkat pengangguran dalam negeri akan memukul aktivitas konsumsi Tanah Air yang selama ini menjadi kontributor penggerak ekonomi yang cukup besar bagi Tanah Air. Untuk mengantisipasi lemahnya konsumsi, pemerintah memang melakukan terobosan-terobosan di bidang fiskal utamanya, seperti pembebasan pajak barang mewah (PPnBm) dan mengurangi separuh suku bunga kredit untuk usaha kecil.

Sejak pertengahan 2013 hingga akhir tahun 2014 lalu, jumlah orang asing yang memegang izin kerja di Indonesia diperkirakan telah turun 20 persen menjadi sekitar 62.000, hal ini terjadi karena sebagian besar tenaga asing melihat peluang yang lebih baik akan lebih banyak diperoleh di negara-negara Barat. Lemahnya perekonomian Indonesia yang sudah terasa sejak tahun lalu semakin kuat hingga semester I tahun ini.





Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar