Pages

Kamis, 25 Juni 2015

Tiongkok dan India Akan Jadi 2 Raksasa Ekonomi Asia


Economist Intelligence Unit memprediksi terdapat lima negara yang bakal menguasai perekonomian global pada 2050. Dalam laporan Economist Intelligence Unit (EIU), lima negara tersebut adalah Tiongkok, Amerika Serikat (AS), India, Meksiko dan Indonesia. Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa Meksiko akan menggeser posisi Rusia, sementara Indonesia akan menggeser posisi Italia dalam kurun waktu 10-35 tahun mendatang.

Tiongkok sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia juga diprediksi akan menggeser posisi AS pada awal 2026 dalam hal produk domestik bruto. Dalam hal pendapatan per kapita, Tiongkok diproyeksikan hampir setara Jepang pada tahun 2050, dan berada di bawah pendapatan per kapita AS per 2014. Masih menurut laporan sama, PDB Asia juga diperkirakan akan mencapai 53 persen pada tahun 2050, meski pangsa Eropa menurun. Tapi untuk peningkatan populasi usia kerja, Afrika dan Timur Tengah kemungkinan akan mengalami pertumbuhan signifikan.

Banyak negara Eropa dan Asia Timur diprediksi akan mengalami penurunan angkatan kerja, di mana Jepang diperkirakan akan mengalami penurunan terbesar hingga lebih dari 25 persen. Demikian juga dengan Tiongkok dan Korea Selatan juga akan mencatat kontraksi di pasar tenaga kerja hingga menyentuh 18 persen. Dan yang lebih buruk lagi akan menimpa Yunani, Portugal dan Jerman yang diperkirakan akan turun lebih dari seperlima.

Tidak hanya itu, dua raksasa baru perekonomian di Asia diprediksi akan muncul dalam kurun 10-35 tahun mendatang yaitu Tiongkok dan India. Oleh karena itu maka menjaga kestabilan kekuatan politik juga sangat diperlukan. Oleh karena itulah kedua negara tersebut diproyeksikan akan mengambil peran lebih besar dalam mengatasi isu-isu global seperti perubahan iklim, keamanan internasional dan tata kelola ekonomi global. Namun demikian, dalam jangka menengah ini tentu support dari kekuasaan dunia yang ada saat ini, AS sangat diperlukan untuk membiarkan India, dan terutama Tiongkok, memainkan peran yang lebih besar di panggung dunia dan beradaptasi dengan lembaga-lembaga internasional untuk memungkinkan mereka menggunakan pengaruh yang lebih besar.

Sebagai informasi saja, tahun 2014 sepertinya bukan menjadi tahun keberuntungan bagi Tiongkok. Laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada 2014 kemarin menyentuh laju paling lambatnya dalam kurun 24 tahun terakhir. Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok pada 2014 kemarin sebesar 7,4 persen, lebih rendah jika dibanding dengan setahun sebelumnya yang tercatat 7,7 persen. Pemerintah Tiongkok sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,5 persen. Adapun yang menjadi penyebab lesunya ekonomi Tiongkok hingga saat ini adalah anjloknya sektor properti di Negeri Tirai Bambu tersebut.



Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar