(Vibiznews
- Business) - Setelah kemarin World Bank mengeluarkan proyeksinya
terhadap perekonomian Asia, hari ini (9/10) giliran International
Monetary Fund (IMF) mengeluarkan ekspektasinya terhadap perekonomian
Asia untuk tahun ini. Lembaga keuangan internasional tersebut
menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Asia secara menyeluruh akan
mengalami perlambatan untuk tahun ini. Secara khusus IMF
menggarisbawahi bahwa perekonomian China akan mengalami penurunan
menjadi 7,8% untuk tahun ini atau lebih rendah dibandingkan dengan tahun
lalu yang sebesar 8,2%. Lembaga internasional tersebut menyatakan
bahwa sebagian besar negara-negara di kawasan Asia akan mengalami
perlambatan ekonomi, terutama pada negara-negara industri. Selain
China, India, Jepang dan Korea Selatan merupakan negara-negara yang
akan mengalami perlambatan ekonomi menurut IMF.
India diprediksi akan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi menjadi 4,9% dari 6,1% pada tahun lalu. Tekanan dari sisi inflasi, penurunan sektor industri dan juga defisit anggaran membuat prediksi
pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5% meleset saat ini.
China sebagai motor utama perekonomian Asia saat ini merupakan salah satu penyebab perekonomian global mengalami penurunan pada saat ini. Negara dengan kapasitas perekonomian terbesar kedua saat ini tersebut terus mengalami penurunan ekspektasi pertumbuhan ekonomi oleh IMF. Di awal tahun ini IMF memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi akan turun sedikit ke posisi 8% akibat imbas dari penurunan performa yuan terhadap mata uang mayoritas terutama dollar.
Namun, pukulan bagi perekonomian China justru terletak sektor swasta yang tahun ini hanya tumbuh 7,7% atau level terendah sejak 13 tahun terakhir. sektor swasta rupanya cukup terbebani dengan faktor kenaikan inflasi yang beriringan dengan kenaikan harga minyak mentah dan turunnya volume ekspor ke negara-negara Eropa akibat krisis finansial dikawasan tersebut. Menurut IMF, perekonomian Asia dapat semakin menurun jika ekonomi Eropa dan Amerika Serikat semakin mengalami penurunan performa pada tahun depan. Bayang-bayang resesi yang terjadi di Eropa cukup mungkin terjadi mengingat kebijakan stimulus dan juga membengkaknya hutang negara-negara yang sedang mengalami krisis juga masih belum dapat terselesaikan.
Berharap Pada Stimulus China
Meski dibayangi oleh ancaman perlambatan ekonomi, IMF cukup yakin bahwa ekonomi China dapat kembali bangkit pada tahun depan. Hal tersebut dilandasi oleh adanya rencana kebijakan stimulus yang akan dikeluarkan oleh pemerintah China di bidang pembangunan infrastruktur yang akan memakan biaya sebesar 150 miliar dollar. Kebijakan tersebut dinilai akan meningkatkan sektor industri dalam jangka pendek dan dapat menyerap tenaga kerja yang sangat besar.
Belum lagi bank sentral China berjanji akan tetap menjaga kestabilan nilai tukar yuan dan juga kebijakan penurunan tingkat inflasi guna meringankan beban perekonomian dalam negeri yang terpukul oleh merosotnya sektor eksportir.
(Joko Praytno/JP/vbn)
Foto : thehindu.com
India diprediksi akan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi menjadi 4,9% dari 6,1% pada tahun lalu. Tekanan dari sisi inflasi, penurunan sektor industri dan juga defisit anggaran membuat prediksi
China sebagai motor utama perekonomian Asia saat ini merupakan salah satu penyebab perekonomian global mengalami penurunan pada saat ini. Negara dengan kapasitas perekonomian terbesar kedua saat ini tersebut terus mengalami penurunan ekspektasi pertumbuhan ekonomi oleh IMF. Di awal tahun ini IMF memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi akan turun sedikit ke posisi 8% akibat imbas dari penurunan performa yuan terhadap mata uang mayoritas terutama dollar.
Namun, pukulan bagi perekonomian China justru terletak sektor swasta yang tahun ini hanya tumbuh 7,7% atau level terendah sejak 13 tahun terakhir. sektor swasta rupanya cukup terbebani dengan faktor kenaikan inflasi yang beriringan dengan kenaikan harga minyak mentah dan turunnya volume ekspor ke negara-negara Eropa akibat krisis finansial dikawasan tersebut. Menurut IMF, perekonomian Asia dapat semakin menurun jika ekonomi Eropa dan Amerika Serikat semakin mengalami penurunan performa pada tahun depan. Bayang-bayang resesi yang terjadi di Eropa cukup mungkin terjadi mengingat kebijakan stimulus dan juga membengkaknya hutang negara-negara yang sedang mengalami krisis juga masih belum dapat terselesaikan.
Berharap Pada Stimulus China
Meski dibayangi oleh ancaman perlambatan ekonomi, IMF cukup yakin bahwa ekonomi China dapat kembali bangkit pada tahun depan. Hal tersebut dilandasi oleh adanya rencana kebijakan stimulus yang akan dikeluarkan oleh pemerintah China di bidang pembangunan infrastruktur yang akan memakan biaya sebesar 150 miliar dollar. Kebijakan tersebut dinilai akan meningkatkan sektor industri dalam jangka pendek dan dapat menyerap tenaga kerja yang sangat besar.
Belum lagi bank sentral China berjanji akan tetap menjaga kestabilan nilai tukar yuan dan juga kebijakan penurunan tingkat inflasi guna meringankan beban perekonomian dalam negeri yang terpukul oleh merosotnya sektor eksportir.
(Joko Praytno/JP/vbn)
Foto : thehindu.com






Tidak ada komentar:
Posting Komentar