(Vibiznews
- Business) - Bank Sentral Australia (RBA) diluar dugaan pada hari ini
(2/10) mengeluarkan kebijakan moneter terhadap suku bunga acuan. Bank
Sentral Australia melakukan penurunan tingkat suku bunga acuan sebesar
25 basis poin menjadi 3,25%, padahal sebelumnya banyak pengamat
menyatakan bahwa RBA akan menahan tingkat suku bunga di posisi 3,5%.
Dalam rapat bulanannya hari ini, RBA melalui Gubernurnya, Glenn Stevens
menyatakan bahwa kebijakan tersebut telah melalui pembahasan yang
cukup intens dalam beberapa waktu terakhir.
Ia menyatakan bahwa bank sentral telah melakukan sebuah kebijakan yang perlu dilakukan untuk saat ini guna mendorong performa perekonomian Australia yang turut mengalami perlambatan mengikuti perkembangan ekonomi global akibat penurunan performa ekonomi China dan krisis finansial di Eropa. Ia juga menambahkan bahwa penurunan tingkat suku bunga acuan akan berdampak positif bagi sektor riil,
terutama sektor tambang yang menjadi pendorong utama bagi perekonomian Australia.
Seperti kita ketahui bersama bahwa sektor tambang Australia turut terkena pukulan yang signifikan akibat penurunan permintaan energi dari negara-negara importir seperti China dan Jepang. Belum lagi sektor finansial yang masih was-was akan dampak terlalu dalam dari krisis finansial global ditengah tingkat inflasi yang masih tinggi di Australia. Menurunkan tingkat inflasi dan juga tingkat pengangguran juga menjadi fokus utama RBA. Tertekannya sektor tambang menjadi penyumbang terbesar bagi meningkatnya arus PHK di negara tersebut.
Berdasarkan prediksi dari RBA, rata-rata tingkat inflasi Australia tahun ini diperkirakan antara 2-3%. Prediksi tersebut sedikit tertolong oleh adanya pengaruh dari melemahnya harga minyak mentah untuk saat ini yang masih berada di kisaran 91 - 94 dollar per barel. Sedangkan disaat yang sama mayoritas harga komoditi juga mengalami penurunan.
Bagi para pengamat, kebijakan penurunan tingkat suku bunga acuan Australia dinilai sudah sangat mendesak dan sesuai dengan keinginan para pelaku industri yang ingin memperoleh sebuah stimulus dari pemerintah. Pengamat memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Australia di kuartal ketiga ini setidaknya menyamai kuartal kedua tahun ini yang sebesar 0,6%. Pertumbuhan ekonomi Australia anjlok tajam di kuartal kedua setelah di kuartal pertama sempat mencapai 1,4%.
Secara keseluruhan baik dari segi RBA maupun pengamat, kebijakan penurunan tingkat suku bunga diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi perekonomian Australia dalam jangka pendek. Kebijakan tersebut terbilang merupakan "senjata" terakhir dari RBA untuk tahun ini mengingat kebijakan suku bunga acuan RBA telah mengalami penurunan sebesar 100 basis poin dalam setahun terakhir.
(Joko Praytno/JP/vbn)
Foto : theaustralian.com.au
Ia menyatakan bahwa bank sentral telah melakukan sebuah kebijakan yang perlu dilakukan untuk saat ini guna mendorong performa perekonomian Australia yang turut mengalami perlambatan mengikuti perkembangan ekonomi global akibat penurunan performa ekonomi China dan krisis finansial di Eropa. Ia juga menambahkan bahwa penurunan tingkat suku bunga acuan akan berdampak positif bagi sektor riil,
Seperti kita ketahui bersama bahwa sektor tambang Australia turut terkena pukulan yang signifikan akibat penurunan permintaan energi dari negara-negara importir seperti China dan Jepang. Belum lagi sektor finansial yang masih was-was akan dampak terlalu dalam dari krisis finansial global ditengah tingkat inflasi yang masih tinggi di Australia. Menurunkan tingkat inflasi dan juga tingkat pengangguran juga menjadi fokus utama RBA. Tertekannya sektor tambang menjadi penyumbang terbesar bagi meningkatnya arus PHK di negara tersebut.
Berdasarkan prediksi dari RBA, rata-rata tingkat inflasi Australia tahun ini diperkirakan antara 2-3%. Prediksi tersebut sedikit tertolong oleh adanya pengaruh dari melemahnya harga minyak mentah untuk saat ini yang masih berada di kisaran 91 - 94 dollar per barel. Sedangkan disaat yang sama mayoritas harga komoditi juga mengalami penurunan.
Bagi para pengamat, kebijakan penurunan tingkat suku bunga acuan Australia dinilai sudah sangat mendesak dan sesuai dengan keinginan para pelaku industri yang ingin memperoleh sebuah stimulus dari pemerintah. Pengamat memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Australia di kuartal ketiga ini setidaknya menyamai kuartal kedua tahun ini yang sebesar 0,6%. Pertumbuhan ekonomi Australia anjlok tajam di kuartal kedua setelah di kuartal pertama sempat mencapai 1,4%.
Secara keseluruhan baik dari segi RBA maupun pengamat, kebijakan penurunan tingkat suku bunga diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi perekonomian Australia dalam jangka pendek. Kebijakan tersebut terbilang merupakan "senjata" terakhir dari RBA untuk tahun ini mengingat kebijakan suku bunga acuan RBA telah mengalami penurunan sebesar 100 basis poin dalam setahun terakhir.
(Joko Praytno/JP/vbn)
Foto : theaustralian.com.au






Tidak ada komentar:
Posting Komentar