(Vibiznews
- Business) - Perekonomian China kian dihadapkan oleh kondisi yang
kurang menguntungkan. Setelah pekan lalu terseret sentimen negatif dari
pernyataan IMF yang memperkirakan bahwa ekonomi negara tersebut akan
mengalami perlambatan pada tahun ini. Kondisi tersebut semakin kian
nyata setelah pada hari ini (16/10) data ekspor China selama bulan
September lalu mengalami penurunan hampir sebesar 10% (y/y). Penurunan
data tersebut merupakan level penurunan terbesar sejak tahun 2008 dan
sukses membawa sebuah kekhawatiran bagi sektor eksportir di China saat
ini. Imbas dari memburuknya perekonomian negara-negara eksportir seperti
pada Eropa dan Amerika Serikat merupakan faktor utama bagi pelemahan
ekspor barang dari China.
Ketua Perhimpunan Sektor Industri China, Zhou Dewen menyatakan bahwa kondisi perekonomian dan sektor ekspor di negaranya memiliki kemungkinan akan lebih parah dibandingkan dengan saat terjadi krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2008. Menurutnya, tekanan terhadap sektor eksportir mulai terlihat sejak awal tahun dan semakin menjadi dalam enam bulan terakhir. Anjloknya permintaan dari negara importir dan tingginya harga bahan baku membuat para pelaku industri
dan manufaktur yang berorientasi ekspor mengalami tekanan yang berarti.
Rata-rata penurunan permintaan dari para importir mencapai 30%. Sedangkan kuantitas pengiriman justru menurun sehingga menimbulkan ketidakefisienan dalam melakukan perdagangan. Seperti halnya pada eksportir barang-barang interior rumah asal China yang sangat mengalami keterpukulan. Hal etrsebut disebabkan oleh adanya sebuah melesunya sektor properti dan sektor konsumsi di Eropa. Banyaknya penyitaan properti semakin menambah daftar penurunan permintaan properti.
Sedangkan pada konsumen lokal, kondisinya juga tidak jauh berbeda. Bahkan dalam setahun terakhir bayang-bayang mengenai adanya bubble di sektor properti masih terjadi. Kondisi tersebut lebih parah dibandingkan pada tahun 2008 dimana melemahnya kondisi eksternal dapat diatasi dengan cukup baiknya perekonomian lokal yang terdorong oleh sektor konsumsi dan juga investasi. Para eksportir China khawatir bahwa proses pemulihan ekonomi global pada tahun ini akan lebih berat bebannya dibandingkan pada empat tahun lalu.
Sedangkan pada jenis barang ekspor lainnya seperti komponen pakaian seperti bahan jeans dan zipper juga mengalami nasib yang sama. Kedua barang tersebut merupakan produk manufaktur yang cukup diandalkan di China yang berbasis di provinsi Shenzhen. Turunnya konsumsi dan pengeluaran dari calon pembeli di Eropa dan AS menjadi penyebab utama. Importir terbesar dari kedua barang tersebut sebelumnya didominasi oleh Spanyol yang memiliki banyak perusahaan ritel pakaian.
Berdasarkan penjelasan diatas, kita bisa memastikan bahwa bukan hanya ekspor barang-barang diatas saja yang mengalami tekanan. Turunnya performa ekspor China juga dialami oleh Jepang dan Korea Selatan. Dampak dari krisis finansial yang terjadi di Eropa telah membawa sebuah dampak yang luas bagi negara-negara eksportir.
(Joko Praytno/JP/vbn)
Foto : vigworld.net
Ketua Perhimpunan Sektor Industri China, Zhou Dewen menyatakan bahwa kondisi perekonomian dan sektor ekspor di negaranya memiliki kemungkinan akan lebih parah dibandingkan dengan saat terjadi krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2008. Menurutnya, tekanan terhadap sektor eksportir mulai terlihat sejak awal tahun dan semakin menjadi dalam enam bulan terakhir. Anjloknya permintaan dari negara importir dan tingginya harga bahan baku membuat para pelaku industri
Rata-rata penurunan permintaan dari para importir mencapai 30%. Sedangkan kuantitas pengiriman justru menurun sehingga menimbulkan ketidakefisienan dalam melakukan perdagangan. Seperti halnya pada eksportir barang-barang interior rumah asal China yang sangat mengalami keterpukulan. Hal etrsebut disebabkan oleh adanya sebuah melesunya sektor properti dan sektor konsumsi di Eropa. Banyaknya penyitaan properti semakin menambah daftar penurunan permintaan properti.
Sedangkan pada konsumen lokal, kondisinya juga tidak jauh berbeda. Bahkan dalam setahun terakhir bayang-bayang mengenai adanya bubble di sektor properti masih terjadi. Kondisi tersebut lebih parah dibandingkan pada tahun 2008 dimana melemahnya kondisi eksternal dapat diatasi dengan cukup baiknya perekonomian lokal yang terdorong oleh sektor konsumsi dan juga investasi. Para eksportir China khawatir bahwa proses pemulihan ekonomi global pada tahun ini akan lebih berat bebannya dibandingkan pada empat tahun lalu.
Sedangkan pada jenis barang ekspor lainnya seperti komponen pakaian seperti bahan jeans dan zipper juga mengalami nasib yang sama. Kedua barang tersebut merupakan produk manufaktur yang cukup diandalkan di China yang berbasis di provinsi Shenzhen. Turunnya konsumsi dan pengeluaran dari calon pembeli di Eropa dan AS menjadi penyebab utama. Importir terbesar dari kedua barang tersebut sebelumnya didominasi oleh Spanyol yang memiliki banyak perusahaan ritel pakaian.
Berdasarkan penjelasan diatas, kita bisa memastikan bahwa bukan hanya ekspor barang-barang diatas saja yang mengalami tekanan. Turunnya performa ekspor China juga dialami oleh Jepang dan Korea Selatan. Dampak dari krisis finansial yang terjadi di Eropa telah membawa sebuah dampak yang luas bagi negara-negara eksportir.
(Joko Praytno/JP/vbn)
Foto : vigworld.net






Tidak ada komentar:
Posting Komentar