
(Vibiznews – FX) – Mata uang euro masih berada di kisaran level
terendah dalam delapan bulan belakangan terhadap dolar AS (06/11). Mata
uang ini kembali berada dalam trend melemah di tengah spekulasi bahwa
Yunani akan gagal untuk memenuhi persyaratan bailout-nya. Kondisi ini
mengancam keutuhan kawasan euro.
PM Yunani Antonis Samaras kemarin
berjanji bahwa proposal pemotongan gaji dan pensiun akan menjadi
langkah pengetatan terakhir yang harus ditanggung oleh rakyat Yunani.
Hingga saat ini dewan rakyat Yunani belum memastikan apakah akan mau
menerima pengetatan tersebut atau tidak.
Sementara itu
kekhawatiran lain juga muncul dari Spanyol. Hingga saat ini Spanyol
masih bersikukuh untuk tidak meminta bantuan pendanaan dari luar,
padahal kondisi keuangan negara ini sudah kritis. Kondisi ini makin
membuat euro tertekan.
Pagi ini euro tampak mengalami penurunan
lanjutan. Mata uang tunggal di kawasan euro ini terpantau pada posisi
1.2794 dolar, turun dibandingkan penutupan perdagangan dini hari tadi
yang ada di level 1.2802 dolar. Euro pada perdagangan tadi malam sempat
mengalami penurunan hingga mencapai level 1.2767 dolar yang merupakan
posisi paling rendah sejak tanggal 11 September lalu.
Analis Vibiz
Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan euro pada
perdagangan hari ini masih berpotensi tertekan. Meskipun demikian pasar
diperkirakan akan mengatur ekspektasi dan tidak akan melakukan
transaksi berlebihan menantikan juga hasil pemilu presiden di AS. Untuk
hari ini euro diperkirakan akan mengalami pergerakan di kisaran 1.2750 –
1.2850 dolar.
(Ika Akbarwati/IA/vbn)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar