Pages

Rabu, 24 Oktober 2012

Krisis Eropa Memburuk, Bagaimana Bank Menyikapinya?

Krisis ekonomi pada zona Eropa telah berlangsung selama dua tahun lebih. Yang terjadi sekarang bukanlah kondisi yang membaik, tetapi malah semakin buruk. Solidaritas kawasan yang dulu mungkin merasa superior dibandingkan kawasan global lainnya, menilik dari sejarah panjang kejayaan daerah itu, saat ini sangat rapuh. Kita tidak yakin akankah Yunani bisa bertahan di kelompok tersebut.
Dengan sudah rontoknya perekonomian negara-negara terkuat di Eropa saat ini, seperti Italia, Spanyol serta Perancis, praktis tinggal Jerman yang merupakan negeri terkuat di zona yang masih bertahan terhadap krisis. Namun demikian, tidak ada yang bisa memastikan bahwa negeri jagoan sepak bola ini akan aman-aman saja di lingkungan yang sekitarnya terus memburuk karena situasi resesi.
Tentang Yunani yang menjadi pemicu dari krisis Eropa saat ini sedang sangat labil. Pemilihan umum sampai harus diselenggarakan dua kali dalam jarak yang pendek karena kegagalan terbentuknya pemerintah yang solid yang dapat memimpin negeri para dewa tersebut melewati badai krisis. Ekonominya mutlak harus dibantu pihak luar, dalam hal ini ECB (European Central Bank), Masyarakat Ekonomi Eropa dan lembaga IMF. Itu pun belum tentu menghasilkan solusi yang solid dan konkrit.
Dikuatirkan Yunani akan kehilangan satu decade pertumbuhan ekonominya selama ini. Suatu gambaran suram yang semakin mendekati kenyataan, yang dapat menyeret sekawasan Eropa itu terperosok pada krisis yang lebih dalam. Hingar bingar Euro Cup tentulah tidak akan sanggup untuk mendongkrak suatu pemulihan ajaib.
Gejolak krisis Eropa yang terjadi telah berimbas kepada perekonomian global, dan Indonesia pun terkena gilirannya juga walau mungkin relative tidak seburuk banyak Negara lainnya. Namun ini pun telah menjadi concern serius pemerintah. Presiden SBY harus meminta Menteri Perdagangan fokus mengatasi dampak krisis pada kinerja ekspor, serta berpesan untuk meningkatkan investasi kepada Kepala BKPM yang baru. Artinya, krisis yang datangnya dari zona Eropa itu patut untuk diwaspadai.
Bagaimana perbankan melihat akan hal ini?. Berantisipasi dan melakukan langkah-langkah pengamanan sekiranya krisis global semakin menekan dan mengancam?. Yang jelas rupiah, pasar uang dan pasar modal kita telah terimbas dan kemudian terseok karena isyu ketidakpastian perekonomian dan perpolitikan di Eropa belakangan ini. Ini menunjukkan bahwa bagaimana pun industri keuangan adalah sektor yang rentan dipengaruhi oleh aneka isyu financial di dunia.
Sudut pandang tidak cukup hanya memandang kepada dinamika situasi dalam negeri. Tetapi apa yang terjadi di luar sana bisa mengguncangkan sektor keuangan. Memang nature-nya sudah demikian.
Ekspor dan Komoditas Patut Diwaspadai
Dampak segera dari krisis kawasan adalah penurunan permintaan dari wilayah tersebut, dalam hal ini zona Eropa, terhadap sejumlah komoditas impor bagi mereka. Untuk perbankan Indonesia tentunya perlu melakukan scanning terhadap sejumlah nasabah kredit (debitur) yang punya komponen ekspor yang besar dari bisnis mereka dengan tujuan pasar Eropa.
Secara umum akan ada pemangkasan order pembelian dari Eropa yang dampaknya akan mengganggu arus kas dari kelompok debitur tersebut. Nasabah-nasabah ini harus secara cerdas mengalihkan target pasar mereka kepada negara-negara lain yang lebih aman, dan atau menaikkan porsi penjualan dalam negeri mereka. Bank sebaiknya harus lakukan close monitoring kepada portfolio kredit yang terkait ini.
Sejumlah nasabah yang bergerak dalam sektor industri pertambangan dan agrobisnis kiranya perlu mendapat perhatian yang lebih khusus. Pada krisis kali ini sentimen pelemahan permintaan telah menurunkan harga minyak dari yang sempat bertengger di atas $100 per barrel sekarang berkisar $80’an per barrelnya. Sehubungan dengan pergerakan pasar minyak bumi ini, maka beberapa komoditas terkait seperti batu bara dan kelapa sawit pun mengalami tekanan harga yang cukup berarti saat ini.
Nasabah-nasabah yang bergerak dalam bisnis komoditas ini, baik secara langsung maupun di level sektor perdagangannya, perlu dimonitor karena umumnya akan mengarah kepada kesulitan likuiditas.
Eropa bukan satu-satunya kawasan yang perlu disoroti. Sejumlah negara Asia yang maju seperti China dan Jepang dewasa ini juga sedang mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi karena eksposur ekspor mereka yang terganggu secara signifikan dalam krisis global kali ini.
Para eksportir ke kawasan ini yang menjadi nasabah bank perlu juga diperhatikan secara ekstra. Demikian juga para importir-nya karena mungkin saja ada penurunan volume aktivitas yang akan mengganggu bisnis mereka dan pada gilirannya dapat memengaruhi kemampuan bayar angsuran kreditnya.
Harga Saham
Selanjutnya, secara khusus bagi bank yang sudah go-public, gejolak krisis Eropa dan global ini telah menggerus harga saham banyak emiten di BEI, dan tidak luput di antaranya adalah saham bank-bank. Saat ini, indeks sektor financial di bursa saham Indonesia telah memasuki negative growth terhitung sejak awal tahun 2012 sampai dengan pertengahan Juni ini, sebesar -2.74%.
Gejolak harga saham ini seperti tidak peduli dengan bagusnya fundamental keuangan perbankan saat ini. Ketidakpastian situasi ekonomi Eropa telah meluruhkan harga-harga saham blue chip perbankan begitu saja. Dari sisi neraca bank jelas ini menurunkan nilai modal dan kapitalisasinya. Di samping itu, penurunan harga saham kerap memberikan citra yang negatif seolah sedang terjadi pemburukan kualitas perusahaan. Padahal yang terjadi saat ini bisa jadi murni sentimen negatif pasar saja.
Untuk situasi ini, tidak bisa tidak bank harus bertahan dalam dan bahkan meningkatkan reputasi baiknya. Bank adalah bisnis kepercayaan. Reputasi baik harus dijaga dengan tetap menunjukkan diri sebagai bank yang dapat dipercaya oleh masyarakat. Kita harapkan badai nanti akan (segera) berlalu. Saat itu diharapkan harga saham akan rebound lagi dan bahkan melejit. Untuk itu, kepercayaan harus diperjuangkan dengan strategi promosi yang cerdas dan komprehensif.
Harapan
Sebenarnya cukup jelas terlihat bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia dan juga industri perbankan dalam negeri tidaklah buruk. Indonesia sampai sekarang masih banyak dipuji sebagai negara dengan laju pertumbuhan ekonomi salah satu yang tertinggi di dunia dengan fleksibilitas ruang kebijakan yang masih longgar untuk menghadapi gejolak krisis. Daya tahan ekonomi kita saat ini termasuk baik.
Kuatnya dominasi sektor konsumsi yang 63%-nya menopang pertumbuhan GDP Indonesia di era krisis global merupakan suatu ketahanan tersendiri karena berarti tidak terlalu terbuka terhadap gejolak luar negeri. Ini terbalik dengan China yang 70% ekonominya bergantung kepada ekspor, sehingga saat ini mengalami pelambatan pertumbuhan yang cukup berarti dalam satu decade terakhir.
Secara industri, perbankan di Indonesia terpantau telah bertumbuh semakin sehat dan efisien. Rasio biaya terhadap pendapatan operasional (BOPO) perbankan Indonesia termonitor telah turun untuk bank umum dari 88.6% di akhir 2008 menjadi 76.7% di Maret 2012. Untuk bank kelompok BUMN bahkan lebih efisien lagi dengan turun dari 89.9% menjadi 74.8% pada periode yang sama.
Peningkatan penggunaan teknologi perbankan serta pemangkasan biaya overhead terbukti telah memperbaiki efisiensi operasional perbankan. Net Interest Margin (NIM) yang ditenggarai sebagai salah satu tertinggi di dunia sekarang juga cenderung mengalami penurunan. Di mana untuk bank umum telah beranjak dari 5.7% di akhir 2008 menjadi 5.1% pada Maret 2012, sementara BUSN Devisa bahkan telah bergerak dari 5.3% menjadi 4.9%.
Kondisi demikian ini memberikan harapan bahwa perbankan Indonesia masih aman, bahkan tangguh dalam periode gejolak krisis global dewasa ini.
Bank Sebagai Motor Ekonomi
Tentunya peranan perbankan diharapkan akan lebih dari sekedar siap bertahan saja. Ibarat pertandingan sepakbola, bila hanya bertahan saja akan rentan terhadap kecurian gol dari team lawan yang menyerang secara tiba-tiba. Pada periode ini bank sebaiknya cukup jeli dan cermat melihat potensi pembiayaan yang dapat mendongkrak secara signifikan laju pertumbuhan dan juga ketahanan ekonomi kita.
Dalam momentum ini bank perlu aktif masuk kepada sektor infrastuktur serta pengembangan energi terbarukan. Ini akan sangat strategis dan monumental dalam transformasi ekonomi domestik kita. Bank perlu proaktif terlibat di dalamnya menjadi motor penggerak ekonomi. Potensi infrastruktur di negeri kepulauan dan kaya sumber daya alam ini, termasuk yang kategorinya terbarukan, sudah sangat nyata. Tetapi kita yang kurang berani membangunnya secara integrated.
Demikian pula, sektor manufaktur yang potensial pantas untuk lebih dilirik dibiayai bank. Memang perlu ada keahlian (skill) tersendiri di sini, di sampaing kompetensi manajemen risiko yang tajam. Tapi hal itu harusnya sudah semakin dimiliki oleh para insan perbankan di Indonesia. Bukankah demikian?.
Pengembangan investasi daerah-daerah remote di luar pusat ekonomi seperti Jawa dan Sumatera patut dimajukan. Ada sangat banyak potensi di kawasan Tengah dan Timur Indonesia. Amat sangat banyak. Asing pun sudah mengakui hal itu. Ini yang perlu lebih digarap oleh perbankan, kembali sebagai motor perekonomian.
Dalam hal ini, nampaknya kita musti bergerak cepat sebelum integrasi ekonomi ASEAN masuk dan mengambil alih semuanya itu. Pada saat itu tiba-tiba kita sadar bahwa sudah terlambat melangkah. Semoga bukan itu yang terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar