Krisis ekonomi pada zona Eropa
telah berlangsung selama dua tahun lebih. Yang terjadi sekarang bukanlah
kondisi yang membaik, tetapi malah semakin buruk. Solidaritas kawasan
yang dulu mungkin merasa superior dibandingkan kawasan global lainnya,
menilik dari sejarah panjang kejayaan daerah itu, saat ini sangat rapuh.
Kita tidak yakin akankah Yunani bisa bertahan di kelompok tersebut.
Dengan
sudah rontoknya perekonomian negara-negara terkuat di Eropa saat ini,
seperti Italia, Spanyol serta Perancis, praktis tinggal Jerman yang
merupakan negeri terkuat di zona yang masih bertahan terhadap krisis.
Namun demikian, tidak ada yang bisa memastikan bahwa negeri jagoan sepak
bola ini akan aman-aman saja di lingkungan yang sekitarnya terus
memburuk karena situasi resesi.
Tentang
Yunani yang menjadi pemicu dari krisis Eropa saat ini sedang sangat
labil. Pemilihan umum sampai harus diselenggarakan dua kali dalam jarak
yang pendek karena kegagalan terbentuknya pemerintah yang solid yang
dapat memimpin negeri para dewa tersebut melewati badai krisis.
Ekonominya mutlak harus dibantu pihak luar, dalam hal ini ECB (European
Central Bank), Masyarakat Ekonomi Eropa dan lembaga IMF. Itu pun belum
tentu menghasilkan solusi yang solid dan konkrit.
Dikuatirkan
Yunani akan kehilangan satu decade pertumbuhan ekonominya selama ini.
Suatu gambaran suram yang semakin mendekati kenyataan, yang dapat
menyeret sekawasan Eropa itu terperosok pada krisis yang lebih dalam.
Hingar bingar Euro Cup tentulah tidak akan sanggup untuk mendongkrak
suatu pemulihan ajaib.
Gejolak krisis
Eropa yang terjadi telah berimbas kepada perekonomian global, dan
Indonesia pun terkena gilirannya juga walau mungkin relative tidak
seburuk banyak Negara lainnya. Namun ini pun telah menjadi concern
serius pemerintah. Presiden SBY harus meminta Menteri Perdagangan fokus
mengatasi dampak krisis pada kinerja ekspor, serta berpesan untuk
meningkatkan investasi kepada Kepala BKPM yang baru. Artinya, krisis
yang datangnya dari zona Eropa itu patut untuk diwaspadai.
Bagaimana
perbankan melihat akan hal ini?. Berantisipasi dan melakukan
langkah-langkah pengamanan sekiranya krisis global semakin menekan dan
mengancam?. Yang jelas rupiah, pasar uang dan pasar modal kita telah
terimbas dan kemudian terseok karena isyu ketidakpastian perekonomian
dan perpolitikan di Eropa belakangan ini. Ini menunjukkan bahwa
bagaimana pun industri keuangan adalah sektor yang rentan dipengaruhi
oleh aneka isyu financial di dunia.
Sudut
pandang tidak cukup hanya memandang kepada dinamika situasi dalam
negeri. Tetapi apa yang terjadi di luar sana bisa mengguncangkan sektor
keuangan. Memang nature-nya sudah demikian.
Ekspor dan Komoditas Patut Diwaspadai
Dampak
segera dari krisis kawasan adalah penurunan permintaan dari wilayah
tersebut, dalam hal ini zona Eropa, terhadap sejumlah komoditas impor
bagi mereka. Untuk perbankan Indonesia tentunya perlu melakukan scanning
terhadap sejumlah nasabah kredit (debitur) yang punya komponen ekspor
yang besar dari bisnis mereka dengan tujuan pasar Eropa.
Secara
umum akan ada pemangkasan order pembelian dari Eropa yang dampaknya
akan mengganggu arus kas dari kelompok debitur tersebut. Nasabah-nasabah
ini harus secara cerdas mengalihkan target pasar mereka kepada
negara-negara lain yang lebih aman, dan atau menaikkan porsi penjualan
dalam negeri mereka. Bank sebaiknya harus lakukan close monitoring
kepada portfolio kredit yang terkait ini.
Sejumlah
nasabah yang bergerak dalam sektor industri pertambangan dan agrobisnis
kiranya perlu mendapat perhatian yang lebih khusus. Pada krisis kali
ini sentimen pelemahan permintaan telah menurunkan harga minyak dari
yang sempat bertengger di atas $100 per barrel sekarang berkisar $80’an
per barrelnya. Sehubungan dengan pergerakan pasar minyak bumi ini, maka
beberapa komoditas terkait seperti batu bara dan kelapa sawit pun
mengalami tekanan harga yang cukup berarti saat ini.
Nasabah-nasabah
yang bergerak dalam bisnis komoditas ini, baik secara langsung maupun
di level sektor perdagangannya, perlu dimonitor karena umumnya akan
mengarah kepada kesulitan likuiditas.
Eropa
bukan satu-satunya kawasan yang perlu disoroti. Sejumlah negara Asia
yang maju seperti China dan Jepang dewasa ini juga sedang mengalami
pelambatan pertumbuhan ekonomi karena eksposur ekspor mereka yang
terganggu secara signifikan dalam krisis global kali ini.
Para
eksportir ke kawasan ini yang menjadi nasabah bank perlu juga
diperhatikan secara ekstra. Demikian juga para importir-nya karena
mungkin saja ada penurunan volume aktivitas yang akan mengganggu bisnis
mereka dan pada gilirannya dapat memengaruhi kemampuan bayar angsuran
kreditnya.
Harga Saham
Selanjutnya,
secara khusus bagi bank yang sudah go-public, gejolak krisis Eropa dan
global ini telah menggerus harga saham banyak emiten di BEI, dan tidak
luput di antaranya adalah saham bank-bank. Saat ini, indeks sektor
financial di bursa saham Indonesia telah memasuki negative growth
terhitung sejak awal tahun 2012 sampai dengan pertengahan Juni ini,
sebesar -2.74%.
Gejolak harga saham
ini seperti tidak peduli dengan bagusnya fundamental keuangan perbankan
saat ini. Ketidakpastian situasi ekonomi Eropa telah meluruhkan
harga-harga saham blue chip perbankan begitu saja. Dari sisi neraca bank
jelas ini menurunkan nilai modal dan kapitalisasinya. Di samping itu,
penurunan harga saham kerap memberikan citra yang negatif seolah sedang
terjadi pemburukan kualitas perusahaan. Padahal yang terjadi saat ini
bisa jadi murni sentimen negatif pasar saja.
Untuk
situasi ini, tidak bisa tidak bank harus bertahan dalam dan bahkan
meningkatkan reputasi baiknya. Bank adalah bisnis kepercayaan. Reputasi
baik harus dijaga dengan tetap menunjukkan diri sebagai bank yang dapat
dipercaya oleh masyarakat. Kita harapkan badai nanti akan (segera)
berlalu. Saat itu diharapkan harga saham akan rebound lagi dan bahkan
melejit. Untuk itu, kepercayaan harus diperjuangkan dengan strategi
promosi yang cerdas dan komprehensif.
Harapan
Sebenarnya
cukup jelas terlihat bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia dan
juga industri perbankan dalam negeri tidaklah buruk. Indonesia sampai
sekarang masih banyak dipuji sebagai negara dengan laju pertumbuhan
ekonomi salah satu yang tertinggi di dunia dengan fleksibilitas ruang
kebijakan yang masih longgar untuk menghadapi gejolak krisis. Daya tahan
ekonomi kita saat ini termasuk baik.
Kuatnya
dominasi sektor konsumsi yang 63%-nya menopang pertumbuhan GDP
Indonesia di era krisis global merupakan suatu ketahanan tersendiri
karena berarti tidak terlalu terbuka terhadap gejolak luar negeri. Ini
terbalik dengan China yang 70% ekonominya bergantung kepada ekspor,
sehingga saat ini mengalami pelambatan pertumbuhan yang cukup berarti
dalam satu decade terakhir.
Secara
industri, perbankan di Indonesia terpantau telah bertumbuh semakin sehat
dan efisien. Rasio biaya terhadap pendapatan operasional (BOPO)
perbankan Indonesia termonitor telah turun untuk bank umum dari 88.6% di
akhir 2008 menjadi 76.7% di Maret 2012. Untuk bank kelompok BUMN bahkan
lebih efisien lagi dengan turun dari 89.9% menjadi 74.8% pada periode
yang sama.
Peningkatan penggunaan
teknologi perbankan serta pemangkasan biaya overhead terbukti telah
memperbaiki efisiensi operasional perbankan. Net Interest Margin (NIM)
yang ditenggarai sebagai salah satu tertinggi di dunia sekarang juga
cenderung mengalami penurunan. Di mana untuk bank umum telah beranjak
dari 5.7% di akhir 2008 menjadi 5.1% pada Maret 2012, sementara BUSN
Devisa bahkan telah bergerak dari 5.3% menjadi 4.9%.
Kondisi
demikian ini memberikan harapan bahwa perbankan Indonesia masih aman,
bahkan tangguh dalam periode gejolak krisis global dewasa ini.
Bank Sebagai Motor Ekonomi
Tentunya
peranan perbankan diharapkan akan lebih dari sekedar siap bertahan
saja. Ibarat pertandingan sepakbola, bila hanya bertahan saja akan
rentan terhadap kecurian gol dari team lawan yang menyerang secara
tiba-tiba. Pada periode ini bank sebaiknya cukup jeli dan cermat melihat
potensi pembiayaan yang dapat mendongkrak secara signifikan laju
pertumbuhan dan juga ketahanan ekonomi kita.
Dalam
momentum ini bank perlu aktif masuk kepada sektor infrastuktur serta
pengembangan energi terbarukan. Ini akan sangat strategis dan monumental
dalam transformasi ekonomi domestik kita. Bank perlu proaktif terlibat
di dalamnya menjadi motor penggerak ekonomi. Potensi infrastruktur di
negeri kepulauan dan kaya sumber daya alam ini, termasuk yang
kategorinya terbarukan, sudah sangat nyata. Tetapi kita yang kurang
berani membangunnya secara integrated.
Demikian
pula, sektor manufaktur yang potensial pantas untuk lebih dilirik
dibiayai bank. Memang perlu ada keahlian (skill) tersendiri di sini, di
sampaing kompetensi manajemen risiko yang tajam. Tapi hal itu harusnya
sudah semakin dimiliki oleh para insan perbankan di Indonesia. Bukankah
demikian?.
Pengembangan investasi
daerah-daerah remote di luar pusat ekonomi seperti Jawa dan Sumatera
patut dimajukan. Ada sangat banyak potensi di kawasan Tengah dan Timur
Indonesia. Amat sangat banyak. Asing pun sudah mengakui hal itu. Ini
yang perlu lebih digarap oleh perbankan, kembali sebagai motor
perekonomian.
Dalam hal ini,
nampaknya kita musti bergerak cepat sebelum integrasi ekonomi ASEAN
masuk dan mengambil alih semuanya itu. Pada saat itu tiba-tiba kita
sadar bahwa sudah terlambat melangkah. Semoga bukan itu yang terjadi.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar